Perencana keuangan bersertifikat CFP, Budi Raharjo, memaparkan sejumlah langkah konkret bagi keluarga pekerja di Jakarta yang ingin menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living tanpa mengorbankan kualitas hidup. Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah mengidentifikasi ke mana uang dibelanjakan dan untuk apa tujuannya. Caranya dengan mencatat seluruh pengeluaran selama kurang lebih satu bulan penuh.
Setelah pencatatan selesai, pengeluaran dikelompokkan berdasarkan kategori. Misalnya cicilan utang, belanja rumah tangga, listrik dan utilitas rumah termasuk air dan internet, biaya kontrakan, transportasi, rekreasi, serta pendidikan anak. Dari gambaran tersebut, keluarga dapat menyusun prioritas pengeluaran sekaligus melihat proporsi setiap pos terhadap keseluruhan anggaran.
Evaluasi Pos Pengeluaran
Tahap berikutnya adalah evaluasi. Pertanyaan kuncinya, apakah pengeluaran pada masing-masing pos sudah sesuai kebutuhan atau justru berlebihan. Jika dirasa terlalu besar, pengeluaran tersebut bisa dipertimbangkan untuk dikurangi sesuai prioritas dan kemampuan keuangan keluarga. Contohnya, jika pos terbesar ternyata berasal dari jajan dan makan di luar, sementara keluarga ingin meningkatkan tabungan rutin, maka pengeluaran itu yang perlu ditekan lebih dulu.
Hal ini perlu dibicarakan dengan pasangan agar keduanya dapat menyusun dan menjalankan program anggaran rumah tangga bersama-sama. Selain itu, keluarga perlu mewaspadai kebocoran pengeluaran akibat belanja yang sia-sia karena tidak terpakai. Membeli terlalu banyak bahan makanan yang akhirnya membusuk dan terbuang adalah contoh yang bisa dihindari dengan perencanaan belanja lebih baik.
Manfaatkan Promo dan Aset Produktif
Untuk pos pengeluaran yang masih bisa ditekan, sejumlah penyesuaian dapat dilakukan. Misalnya memanfaatkan promo dan diskon atau mencari alternatif sumber kebutuhan rutin dengan biaya lebih murah. Biaya transportasi pun bisa ditekan dengan memilih moda yang lebih efisien, seperti beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum atau menggunakan kendaraan listrik jika memang lebih ekonomis.
Selain mengevaluasi pengeluaran, keluarga disarankan melihat kembali aset yang dimiliki tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Aset tersebut mungkin bisa digunakan lebih produktif untuk menciptakan sumber pendapatan tambahan. Jika semua langkah sudah dilakukan tetapi arus kas masih terkendala, pertimbangkan mencari sumber penghasilan baru dengan memanfaatkan keahlian, hobi, maupun peluang usaha dari jaringan pertemanan dan relasi.
Bagi keluarga berpenghasilan sekitar Rp10 juta per bulan di Jakarta, tekanan biaya kontrakan, transportasi, dan kebutuhan sekolah anak memang membuat sisa uang di akhir bulan sangat tipis. Karena itu, evaluasi menyeluruh atas struktur keuangan keluarga menjadi kunci, bukan sekadar memangkas semua pengeluaran nonpokok secara membabi buta.