Harga beras di Indonesia kembali menunjukkan kenaikan pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kenaikan terjadi di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Kondisi ini menjadi sinyal tekanan biaya pangan yang dirasakan langsung oleh masyarakat lokal di berbagai daerah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,26 persen secara bulanan (month-to-month) pada Oktober 2026. Secara tahunan (year-on-year), kenaikannya mencapai 6,89 persen. "Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan Oktober tahun 2026 secara total naik 0,26 persen, ini secara bulanannya, dan naik sebesar 6,89 persen secara year on year," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan kualitas, harga beras premium di tingkat penggilingan naik tipis 0,01 persen secara bulanan, tetapi melonjak 11,32 persen secara tahunan. Sementara itu, beras medium naik 0,35 persen secara bulanan dan 5,57 persen secara tahunan. Kenaikan di level penggilingan ini menjadi titik awal yang kemudian merambat ke harga grosir dan eceran.

Dampak hingga Tingkat Eceran

Di tingkat grosir, BPS mencatat inflasi beras sebesar 0,01 persen secara bulanan dan 5,13 persen secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, inflasi beras mencapai 0,08 persen secara bulanan dan 4,10 persen secara tahunan. "Di tingkat eceran, inflasi bulanannya sebesar 0,08 persen dan inflasi secara year on year pada tingkat eceran sebesar 4,10 persen," ungkap Ateng.

Secara nominal, rata-rata harga beras pada Oktober 2026 tercatat Rp15.765 per kilogram di tingkat eceran. Harga di tingkat grosir mencapai Rp14.994 per kilogram, sedangkan di tingkat penggilingan sebesar Rp14.365 per kilogram. Angka ini merupakan rata-rata dari berbagai jenis kualitas beras dan mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Bagi masyarakat lokal, kenaikan harga beras di tingkat eceran berarti tambahan beban pengeluaran rumah tangga sehari-hari. Beras sebagai bahan pangan pokok membuat pergerakan harganya sangat terasa, terutama bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah. Tekanan ini juga berpotensi memengaruhi pola belanja warga, mulai dari mengurangi porsi pembelian hingga beralih ke kualitas beras yang lebih murah.

Data BPS menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga paling tinggi secara tahunan justru terjadi di tingkat penggilingan, yakni 6,89 persen. Artinya, kenaikan harga tidak hanya dirasakan konsumen akhir, tetapi sudah terjadi sejak proses produksi. Rantai distribusi yang panjang dari penggilingan ke grosir lalu ke eceran turut menentukan seberapa besar kenaikan yang akhirnya ditanggung pembeli di pasar lokal.