Harga emas dunia mengalami tekanan tajam menjelang akhir pekan. Logam mulia tersebut turun menembus level US$ 4.000 per ons dan mencapai titik terendah dalam lebih dari setahun, yaitu sejak 6 Oktober 2025. Pada Jumat pekan ini, aksi jual besar-besaran mendorong harga emas ke level terendah harian di US$ 3.884,61 per ons.

Harga emas spot terakhir diperdagangkan di level US$ 3.880 per ons, turun 3,5% dalam sehari. Secara mingguan, harga telah terkoreksi hampir 3%. Penurunan ini terjadi di tengah antisipasi investor terhadap data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan pemilihan umum paruh waktu yang diperkirakan menghadirkan ketidakpastian baru bagi pasar keuangan.

Menurut para analis dan pelaku pasar, terdapat rasa frustrasi yang cukup besar karena emas menghadapi tekanan jual signifikan, padahal nilai dolar AS dan imbal hasil obligasi justru sedang melemah. Secara tradisional, kedua faktor tersebut seharusnya menjadi sentimen positif bagi logam mulia karena mampu menurunkan biaya peluang dalam memegang emas.

Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, Philip Streible, mengatakan emas akan terus kesulitan karena konflik yang sedang berlangsung dengan Iran menjaga harga minyak tetap tinggi. "Aturan di pasar saat ini adalah Anda harus membeli aset yang mencerminkan inflasi, dan minyak saat ini merupakan representasi dari inflasi tersebut," ujarnya.

Streible menambahkan, emas berkinerja baik ketika bank sentral terpaksa memangkas suku bunga untuk mendukung perekonomian. Namun, dengan ekonomi yang tumbuh sebesar 3,4% pada kuartal ketiga, bank sentral AS memiliki ruang yang cukup luas untuk menaikkan suku bunga. "Jika ekonomi tetap kuat, The Fed dapat terus menaikkan suku bunga, yang berarti emas akan terus berada dalam posisi rentan terhadap tekanan," ujarnya.

Penurunan juga melanda perak dengan lebih tajam. Harga perak jatuh ke bawah US$ 50 per ons, terakhir diperdagangkan pada US$ 48,95 per ons, turun hampir 6% dalam sehari. Harga perak telah anjlok hampir 9% sejak Jumat lalu, mencatatkan penurunan mingguan terburuk sejak awal Juni.

Meskipun Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga setelah pertemuan kebijakan moneter pada Rabu, bank sentral tersebut tetap berkomitmen menekan inflasi. Terlepas dari jeda kenaikan suku bunga minggu ini, pasar tetap memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember dan sepanjang kuartal pertama 2027.

Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com, Simon-Peter Massabni, menyatakan meskipun dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi menurun, emas justru bereaksi terhadap ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga di masa depan. "Faktor penentunya adalah apakah data ekonomi yang akan datang mendorong pasar untuk mengevaluasi kembali prospek suku bunga," ujarnya.

Ia melihat tiga perkembangan yang dapat mengubah prospek emas. Pertama, pendinginan bertahap di pasar tenaga kerja AS yang tercermin dari melambatnya pertumbuhan lapangan kerja dan meningkatnya angka pengangguran. Kedua, penurunan inflasi yang berkelanjutan, terutama inflasi inti. Ketiga, penyesuaian ekspektasi suku bunga masa depan dan imbal hasil riil ke tingkat yang lebih rendah.