Kekerasan etnis di Manipur, India timur laut, kembali menelan korban. Lima orang dari komunitas suku Kuki tewas dalam dua insiden terpisah yang terjadi pada akhir pekan lalu. Peristiwa ini menambah panjang derita warga lokal yang selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang konflik antarkelompok.
Menurut keterangan kepolisian, tiga pria Kuki tewas dalam baku tembak dengan kelompok bersenjata tak dikenal di Distrik Noney pada Sabtu (31/10/2026). Sementara itu, dua pria Kuki lainnya yang sempat dilaporkan hilang ditemukan tewas di Distrik Kangpokpi pada Minggu pagi setelah aparat keamanan melakukan operasi pencarian.
Organisasi utama komunitas Kuki menuding kelompok separatis Naga bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Mereka menyebut insiden itu sebagai serangan langsung tanpa provokasi di wilayah yang dianggap sebagai tanah air komunitas Kuki. Hingga kini, pihak berwenang belum memberikan pernyataan resmi mengenai motif di balik serangan.
Protes dan Ketegangan yang Tak Berujung
Pembunuhan tersebut terjadi saat ratusan ribu orang menggelar aksi protes di ibu kota negara bagian, Imphal, dan sejumlah wilayah lainnya. Para demonstran mendesak pemerintah membatalkan kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok bersenjata Kuki. Mereka menilai kebijakan itu tidak mampu menjamin keamanan warga di tengah meningkatnya kekerasan.
Komunitas Kuki dan Naga, yang mayoritas beragama Kristen, telah lama berselisih terkait klaim wilayah etnis. Gelombang kekerasan terbaru pecah setelah seorang pria Naga diduga diserang sejumlah orang dari komunitas Kuki pada Februari 2026. Ketegangan memuncak setelah tiga pendeta Kuki tewas pada Mei lalu dalam pembunuhan yang diduga dilakukan kelompok bersenjata Naga. Peristiwa itu memicu rangkaian penculikan dan pembunuhan balasan.
Konflik Kuki-Naga menambah daftar panjang kekerasan etnis di Manipur. Sejak Mei 2023, komunitas Kuki juga terlibat bentrokan berdarah dengan kelompok Meitei yang mayoritas beragama Hindu, dipicu perselisihan mengenai akses terhadap manfaat ekonomi dan kuota pekerjaan.
Dampak bagi Warga Lokal
Rangkaian konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 300 orang dan memaksa puluhan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Hingga kini, lebih dari 60.000 orang masih tinggal di tempat penampungan sementara. Kekerasan terbaru kembali memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di negara bagian tersebut.
Bagi warga lokal, dampaknya terasa sangat nyata. Akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan mata pencaharian menjadi terganggu. Banyak keluarga yang terpisah dan kehilangan tempat tinggal. Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah pusat dan pihak keamanan agar kekerasan tidak terus berulang.