Fort Rotterdam di Makassar kembali menjadi sorotan publik terkini karena sederet agenda yang berlangsung di kawasan benteng bersejarah itu, mulai dari perayaan 17 tahun Rock In Celebes yang memadukan musik dan budaya, kegiatan pengembangan diri mahasiswa Akuntansi Unismuh, hingga penataan trotoar dengan pembongkaran mandiri 19 lapak es kelapa. Perkembangan ini menempatkan Fort Rotterdam bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga ruang publik yang aktif untuk ekspresi budaya, pendidikan, dan tata kota.
Secara garis besar, peristiwa ini melibatkan panitia dan komunitas Rock In Celebes, mahasiswa Unismuh, pedagang lapak es kelapa, serta pihak berwenang terkait; terjadi dalam beberapa hari terakhir di kawasan Fort Rotterdam, Makassar; dan dilakukan untuk menghidupkan budaya lokal, mengasah kemampuan mahasiswa, serta mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki. Pelaksanaannya mencakup panggung musik dan budaya, program bahasa Inggris dan pengembangan diri, serta pembongkaran lapak secara mandiri.
Menurut rangkuman media nasional, perayaan 17 tahun Rock In Celebes menjadikan Fort Rotterdam sebagai panggung perpaduan musik dan budaya. Di tengah momentum itu, Menteri Kebudayaan juga mengajak masyarakat menghidupkan semangat Sumpah Pemuda melalui perawatan budaya, sebuah pesan yang relevan dengan aktivitas di benteng bersejarah tersebut. Sementara itu, mahasiswa Akuntansi Unismuh Makassar memanfaatkan lokasi yang sama untuk mengasah bahasa Inggris dan pengembangan diri, menunjukkan fungsi Fort Rotterdam sebagai ruang belajar di luar kelas.
Di sisi lain, penataan kawasan dilakukan dengan membongkar 19 lapak es kelapa secara mandiri untuk mengembalikan fungsi trotoar Fort Rotterdam. Langkah ini menegaskan upaya menjaga kenyamanan pejalan kaki di area wisata dan budaya. Media lokal juga menyoroti suasana benteng melalui narasi "Bisikan Angin di Benteng Fort Rotterdam: Jeda Sebentar, Janji untuk Kembali", yang menambah nuansa reflektif pada rangkaian peristiwa di lokasi tersebut.
Dampak langsungnya, kawasan Fort Rotterdam kini menjadi contoh ruang publik yang harus menyeimbangkan ekspresi budaya, kegiatan edukasi, dan ketertiban tata kota. Masyarakat dan pengunjung diimbau menjaga kebersihan, menghormati fungsi trotoar, serta mendukung kegiatan budaya yang berlangsung secara tertib dan aman.