MAKASSAR — Fort Rotterdam kembali menjadi sorotan publik setelah 19 lapak es kelapa di sekitar kawasan benteng bersejarah itu dibongkar secara mandiri untuk mengembalikan fungsi trotoar. Langkah ini menandai upaya tegas menjaga ketertiban dan kenyamanan kawasan wisata sejarah di Makassar, Sulawesi Selatan.
Di tengah penataan tersebut, Fort Rotterdam tetap hidup sebagai panggung budaya dan ruang publik. Belum lama ini, benteng peninggalan kolonial Belanda itu menjadi lokasi perayaan 17 tahun Rock In Celebes yang memadukan musik dan budaya lokal. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi muda.
Menurut laporan Kompas.com, pembongkaran 19 lapak es kelapa dilakukan secara mandiri oleh para pedagang sebagai bentuk kesadaran menjaga fungsi trotoar bagi pejalan kaki. Upaya ini sejalan dengan imbauan pemerintah untuk menjaga ketertiban kawasan wisata. Sementara itu, Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar juga memanfaatkan Fort Rotterdam sebagai lokasi pengasahan bahasa Inggris dan pengembangan diri, menegaskan peran benteng sebagai ruang edukasi.
Di sisi lain, Menteri Kebudayaan (Menbud) mengajak masyarakat menghidupkan semangat Sumpah Pemuda melalui perawatan budaya, termasuk situs-situs bersejarah seperti Fort Rotterdam. Pesan tersebut selaras dengan nuansa "Bisikan Angin di Benteng Fort Rotterdam: Jeda Sebentar, Janji untuk Kembali" yang menggambarkan kawasan ini sebagai ruang refleksi sejarah yang terus berjanji kembali ke tengah kehidupan masyarakat.
Dengan penataan trotoar dan kegiatan budaya yang terus berlangsung, warga dan wisatawan diimbau menjaga kebersihan, ketertiban, serta menghormati nilai sejarah Fort Rotterdam. Pemerintah daerah diharapkan terus menata kawasan ini agar tetap nyaman, aman, dan berkelanjutan sebagai ikon pariwisata Makassar.