Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Singapura kembali memanas. Kementerian Tenaga Kerja Singapura mencatat 4.800 kasus PHK pada kuartal III tahun 2026, naik dari 4.620 kasus pada kuartal sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV tahun 2020, saat pandemi COVID-19 mencapai puncaknya dengan 5.640 PHK.

Kementerian menyampaikan data tersebut pada Jumat (30/10/2026). Lonjakan PHK didorong oleh reorganisasi bisnis yang dilakukan sejumlah perusahaan. Meski demikian, tingkat pengangguran keseluruhan Singapura tetap stabil di angka 2,0% pada September 2026.

Tekanan Mulai Terasa di Level Pekerja Lokal

Di balik angka pengangguran yang tampak datar, tekanan justru mulai terasa bagi penduduk dan warga negara Singapura. Tingkat pengangguran penduduk naik tipis menjadi 3,0%, sedangkan warga negara menjadi 3,1% pada September 2026. Sebelumnya, pada Agustus, kedua angka tersebut masing-masing berada di 2,9% dan 3,0%.

Kementerian juga mencatat kenaikan jumlah perusahaan yang memperkirakan akan melakukan penghematan dalam tiga bulan ke depan. Angka itu naik menjadi 3,1% dari sebelumnya 2,8%. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa gelombang PHK belum sepenuhnya mereda.

"Sementara pasar tenaga kerja terus berkembang, pengurangan tenaga kerja tetap meningkat dan, bersamaan dengan niat yang lebih tinggi untuk melakukan pengurangan, hal ini menunjukkan munculnya kelemahan di beberapa bagian pasar tenaga kerja yang memerlukan pemantauan ketat," kata Kementerian Tenaga Kerja Singapura dalam pernyataannya.

Penyerapan Tenaga Kerja Masih Tumbuh

Meski PHK meningkat, total lapangan kerja di Singapura masih mencatat pertumbuhan. Pada kuartal III 2026, lapangan kerja bertambah 27.700, lebih tinggi dibandingkan 11.400 pada kuartal II dan 25.100 pada periode yang sama tahun lalu.

Kondisi ini menggambarkan pasar tenaga kerja yang terbelah. Di satu sisi, penciptaan lapangan kerja baru berjalan, tetapi di sisi lain, perusahaan mulai mengurangi karyawan lewat reorganisasi. Bagi masyarakat lokal, ketidakpastian ini menuntut kewaspadaan, terutama bagi pekerja di sektor yang tengah berbenah.

Pemerintah Singapura menegaskan akan memantau perkembangan pasar tenaga kerja secara ketat. Bagi warga, sinyal pelemahan ini menjadi pengingat bahwa stabilitas kerja tidak lagi bisa dianggap remeh di tengah gelombang efisiensi perusahaan.