Forum nasional bertajuk “Sejahtera Tanpa Kerja” digelar hari ini di Jakarta, menghadirkan perwakilan pemerintah, akademisi, serikat pekerja, dan pengusaha untuk membahas masa depan kesejahteraan di tengah perubahan struktural ekonomi. Acara ini menjadi respons atas meningkatnya kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak lagi selalu diikuti penyerapan tenaga kerja, sementara otomatisasi dan kecerdasan buatan semakin menggantikan peran manusia di berbagai sektor.

Isu utama yang diangkat adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pekerjaan formal tradisional. Para peserta menyoroti fenomena jobless growth serta pergeseran pasar kerja, sekaligus mengeksplorasi alternatif seperti penguatan jaring pengaman sosial, peningkatan produktivitas, dan pengembangan keterampilan baru agar masyarakat tetap sejahtera meski struktur pekerjaan berubah drastis.

Latar belakang diskusi ini merujuk pada berbagai analisis yang telah muncul di ruang publik. Sebagaimana dirangkum Kompasiana, bekerja saja tidak lagi menjamin sejahtera di Indonesia, karena upah, biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi kerap tidak sebanding. Sementara itu, FSP KEP SPSI menyoroti pertanyaan kritis: ketika mesin semakin pintar, apakah pekerja akan semakin sejahtera? Kekhawatiran ini diperkuat oleh analisis dari UIN Jakarta yang menegaskan ancaman jobless growth bagi kesejahteraan, di mana pertumbuhan ekonomi tidak disertai penciptaan lapangan kerja yang memadai.

Dalam forum tersebut, pihak berwenang dan pakar menyampaikan pandangan berimbang. “Kita harus memastikan bahwa kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada kesejahteraan rakyat, bukan hanya pada angka-angka makro,” ujar salah satu narasumber dari kementerian terkait. Sementara itu, perwakilan serikat pekerja menekankan pentingnya perlindungan pekerja dan upskilling massal, agar transisi menuju ekonomi berbasis teknologi tidak meninggalkan kelompok rentan. Diskusi juga menyinggung pentingnya kesetaraan dan kesejahteraan, sejalan dengan semangat Hari Perawatan dan Dukungan Internasional yang mendorong penghargaan terhadap pekerjaan perawatan dan dukungan.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Dampak langsung dari isu ini adalah perlunya langkah konkret, mulai dari perumusan kebijakan jaring pengaman sosial hingga investasi pada pendidikan dan pelatihan. Situasi terkini menunjukkan bahwa transformasi ekonomi berjalan cepat, sehingga masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kompetensi dan memanfaatkan program pelatihan yang disediakan pemerintah serta swasta. Pemerintah daerah juga didorong mempercepat pembangunan infrastruktur ekonomi produktif, seperti yang tercermin dari penandatanganan kerja sama pembangunan Subang Mega Mall dan Subang Trade Center, guna menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru yang inklusif.