Sejumlah masyarakat mulai merasakan perubahan suasana udara dalam beberapa hari terakhir. Hujan belum turun secara rutin dan merata, tetapi udara terasa lebih lembap, pengap, dan membuat tubuh cepat berkeringat. Kondisi ini muncul saat cuaca sedang mengalami perubahan.
Kelembapan udara menunjukkan banyaknya uap air di atmosfer. Semakin tinggi kandungan uap air, semakin lembap pula udara. Udara lembap tidak selalu ditandai hujan karena uap air bisa sudah banyak berada di atmosfer sementara kondisi lainnya belum mendukung terbentuknya awan hujan besar.
Dampak bagi Masyarakat Lokal
Ketika kelembapan tinggi bertemu suhu panas, tubuh merasakan suasana lebih gerah. Keringat yang keluar membutuhkan penguapan untuk mendinginkan tubuh. Jika udara sudah mengandung banyak uap air, penguapan keringat menjadi lebih lambat sehingga tubuh terasa lengket dan panas meski suhu tidak terlalu ekstrem.
Bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, kondisi ini menambah beban kerja tubuh. Kelompok lanjut usia, anak-anak, dan pekerja lapangan perlu menjaga asupan cairan serta mengurangi paparan panas pada siang hari.
BMKG menjelaskan suasana gerah secara meteorologis dapat terjadi ketika suhu udara panas disertai kelembapan tinggi. Salah satu penyebabnya adalah perubahan dinamika atmosfer saat suatu wilayah mendekati periode peralihan musim. Kandungan uap air dapat meningkat lebih dulu, namun untuk menghasilkan hujan masih diperlukan pengangkatan massa udara, pertumbuhan awan, dan kondisi angin yang mendukung.
Musim Kemarau Masih Dominan
Berdasarkan analisis BMKG pada 23 September 2026, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim masih mengalami musim kemarau. BMKG memprediksi curah hujan pada September dasarian II hingga Oktober dasarian I 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0-150 milimeter per dasarian.
Dengan kondisi tersebut, hujan belum tentu turun merata atau rutin di seluruh wilayah. Sebagian daerah masih mengalami hari-hari relatif kering, sementara daerah lain sudah mendapat hujan lokal. Dinamika atmosfer seperti gelombang atmosfer, daerah pertemuan angin, dan kondisi lokal dapat memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah tertentu meski kondisi kering masih mendominasi.
Fenomena udara lembap juga dapat terjadi ketika awan mulai tumbuh pada siang hingga sore hari. Permukaan bumi yang mendapat pemanasan matahari menyebabkan udara dekat permukaan menghangat dan naik. Jika kondisi atmosfer mendukung, proses itu membantu pembentukan awan yang kemudian berkembang menjadi hujan.