Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) kini berada di ambang kepunahan. Berdasarkan klasifikasi International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa ini masuk kategori Critically Endangered atau kritis, satu tingkat sebelum punah di alam liar. Jumlahnya di alam liar diperkirakan tersisa kurang dari 80 ekor.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Sumatra dan Kalimantan, kondisi ini bukan sekadar kabar konservasi. Kelestarian badak Sumatra berkaitan langsung dengan terjaganya hutan yang menjadi sumber kehidupan warga, mulai dari air, pangan, hingga pengendalian banjir.

Satwa Khas dengan Ciri Unik

Badak Sumatra dikenal sebagai spesies badak terkecil di dunia sekaligus satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Tingginya sekitar 1 hingga 1,5 meter pada bagian bahu, dengan bobot yang bisa mendekati satu ton.

Tubuhnya ditutupi rambut kasar berwarna cokelat kemerahan, sehingga kerap dijuluki badak berbulu. Satwa ini hidup menyendiri, kecuali pada masa kawin atau saat induk merawat anaknya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Penyebab Populasi Terus Menyusut

Ancaman utama datang dari kerusakan dan penyusutan habitat. Pembukaan lahan, pembangunan jalan, dan perambahan hutan memecah habitat menjadi kawasan kecil yang terpisah.

Akibatnya, badak sulit menemukan pasangan untuk berkembang biak. Populasi yang kecil dan terisolasi berisiko kehilangan keragaman genetik, sehingga peluang bertahan dalam jangka panjang ikut menurun.

Perburuan ilegal untuk mengambil cula juga masih terjadi, meski perdagangan internasional cula badak telah dilarang. Tingkat reproduksi yang lambat dengan masa kehamilan panjang membuat pemulihan populasi membutuhkan waktu lama.

Harapan dari Way Kambas

Upaya pelestarian dijalankan melalui Suaka Rhino Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Program ini mendukung perawatan, penelitian, serta perkembangbiakan badak dalam lingkungan yang dikelola khusus.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Namun, penangkaran bukan satu-satunya solusi. Perlindungan habitat, pemberantasan perburuan, dan pengelolaan populasi yang memperhatikan keragaman genetik tetap menjadi syarat utama.

Masyarakat dapat ikut berkontribusi dengan mendukung lembaga konservasi terpercaya, menolak membeli produk dari satwa dilindungi, dan menyebarkan informasi soal pentingnya menjaga satwa liar beserta habitatnya. Tanpa perlindungan konsisten, peluang menyelamatkan badak Sumatra semakin kecil.