Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria melaporkan sejumlah hasil riset kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa (27/10/2029). Salah satu yang disorot adalah pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai sumber energi listrik. Laporan ini membuka harapan baru bagi daerah-daerah sentra sawit yang selama ini menghadapi persoalan limbah sekaligus keterbatasan pasokan listrik.

Arif menjelaskan, limbah cair sisa pengolahan tandan kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat dikonversi menjadi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). "Terkait potensi energi masa depan, tadi kami juga melaporkan kepada Bapak Presiden sejumlah potensi energi yang dapat dikembangkan, salah satunya melalui pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas," kata Arif usai rapat.

Data yang dipaparkan Arif menunjukkan produksi tandan buah segar (TBS) sawit nasional mencapai sekitar 328,43 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, potensi limbah cair POME di seluruh Indonesia mencapai sekitar 229,9 juta meter kubik per tahun. Jika dikonversi melalui PLTBg, limbah tersebut mampu menghasilkan listrik hingga 3,9 gigawatt (GW).

"Kalau kita lihat potensi dari POME, potensi dari tandan kosong sawit, total itu bisa mencapai kurang lebih 3,9 gigawatt. Ini jumlah yang lumayan dari limbah untuk bisa menghasilkan energi alternatif, dan itu penting," ujar Arif.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Dampak bagi Daerah Sentra Sawit

Bagi masyarakat di kawasan perkebunan sawit, pemanfaatan POME menjadi listrik berpotensi menghadirkan pasokan energi yang lebih dekat dan terjangkau. Daerah yang selama ini hanya menjadi pemasok bahan baku bisa memperoleh nilai tambah dari pengolahan limbah di wilayahnya sendiri. Selain itu, pencemaran air dan bau tak sedap dari kolam limbah yang kerap dikeluhkan warga dapat ditekan.

Arif juga menyinggung persoalan lingkungan. Selama ini POME berpotensi menjadi sumber emisi gas metana yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Melalui teknologi pengolahan menjadi biogas, limbah tersebut berubah menjadi sumber energi alternatif yang lebih bersih.

Meski begitu, Arif menekankan pengembangan teknologi tidak cukup berhenti pada produksi biogas. "Menurut saya, pengembangan teknologi ini tidak cukup hanya sampai pada produksi biogas. Hal yang lebih penting adalah bagaimana biogas tersebut dapat dikonversi dan disimpan dalam tabung gas," katanya.

Dengan demikian, kata dia, hasil olahan limbah sawit bisa langsung dimanfaatkan masyarakat, termasuk di daerah yang jauh dari jaringan listrik. Potensi 3,9 GW ini menjadi salah satu opsi energi terbarukan yang dilaporkan ke pemerintah di tengah upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]