Pemerintah bersama Yayasan Kalaweit membangun sekat bakar sepanjang 3,2 kilometer di Desa Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Jalur tersebut dibuat untuk menghambat penyebaran kebakaran hutan dan lahan sekaligus melindungi kawasan habitat orangutan di sekitarnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung lokasi sekat bakar itu bersama pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, pada Sabtu (31/10). Pembangunan jalur pengaman tersebut diketahui mulai dikerjakan pada 11 September, jauh sebelum peninjauan dilakukan.
Api Berulang Meski Sudah Dipadamkan
Chanee menjelaskan, keputusan membangun sekat bakar diambil setelah tim berulang kali melakukan pemadaman, tetapi api kembali menyala. Tim sebelumnya berupaya memadamkan api selama sekitar 10 hari sebelum akhirnya memilih jalur pembatas sebagai langkah pengamanan.
"Sebelum ambil keputusan ini pernah berkomunikasi dengan bapak Menteri, 10 hari sudah coba, padamin-padamin, cukup confident ternyata apinya nyala lagi," kata Chanee dalam keterangan tertulis, Minggu (1/11).
Di lokasi, sekat bakar memisahkan area yang telah terbakar dengan kawasan yang masih ditumbuhi vegetasi hijau. Keberadaan jalur itu dinilai membantu mencegah api merambat ke kawasan yang menjadi tempat hidup orangutan.
Kerja Bersama Warga dan Petugas Lapangan
Pembangunan sekat bakar melibatkan Chanee bersama Manggala Agni Kementerian Kehutanan, petugas pemadam kebakaran, BPBD Barito Utara, dan masyarakat setempat. Sejumlah perusahaan turut mendukung dengan menyediakan alat berat.
Raja Juli sebelumnya memberikan izin penggunaan alat berat secara terbatas untuk pembuatan sekat bakar. Penggunaan alat berat dalam kondisi darurat itu dibatasi hanya untuk kebutuhan penanganan karhutla dan tidak boleh melampaui keperluan tersebut.
Bagi warga Desa Paring Lahung dan sekitarnya, keberadaan sekat bakar menjadi penahan pertama agar asap dan api tidak meluas ke permukiman serta lahan garapan. Kawasan yang terbakar berulang kali berpotensi menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan pernapasan, aktivitas harian, dan akses warga antarwilayah.
Chanee menegaskan, sekat bakar tetap perlu diikuti penguatan personel untuk menjaga dan melakukan pemadaman di sepanjang jalur. Ia menilai pola serupa layak diterapkan sebagai pengaman ketika upaya pemadaman menghadapi api yang sulit dikendalikan.
"Kalau saya sarankan selalu dibuat seperti ini, kalau sudah selesai ayo kita padamin, kalau berhasilkan berarti tidak terkorban semua tapi ada pengaman kalau kita kewalahan," ujarnya.