Jakarta, Indo Fokus — Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong akhirnya angkat bicara menanggapi kebijakan pemerintah Indonesia yang memangkas ekspor gas ke negara tersebut. Ia meminta semua pihak menepati komitmen yang telah tertuang dalam kontrak, seraya menegaskan importir gas Singapura akan menempuh langkah hukum untuk melindungi hak dan kepentingannya.

Permintaan itu muncul karena sebagian besar kebutuhan listrik Singapura saat ini dihasilkan dari gas alam, dan sebagian besar pasokan diimpor melalui jalur pipa dari Indonesia. "Kami mengharapkan semua pihak menepati komitmennya, dan importir gas Singapura akan menempuh segala langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut," ujar PM Wong, dikutip dari pernyataannya, Minggu (25/10/2026).

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyatakan penyesuaian volume ekspor bertujuan menjaga keandalan dan keberlanjutan pasokan gas bagi sektor kelistrikan dalam negeri. Pemangkasan mencakup alokasi dari Natuna sebesar 15 BBTUD dan Sumatra sebesar 16 BBTUD, sehingga total ekspor ke Singapura berkurang 31 BBTUD.

"Mulai besok (Sabtu, 23/10/2026), kita kurangi ekspor gas ke Singapura dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatra 16 BBTUD," ujar Djoko di sela acara Subroto Awards 2026 Kementerian ESDM di Jakarta. Khusus Sumatra, pemotongan berasal dari Wilayah Kerja Jambi Merang. Menurut Djoko, pemangkasan hanya menyasar Singapura karena pipa ekspor yang ada terhubung langsung ke negara itu.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Dampak Terbatas, Singapura Siapkan Antisipasi

Berdasarkan data Otoritas Pasar Energi (EMA), pengurangan pasokan dari Indonesia hanya mencakup kurang dari 2% total kebutuhan gas harian Singapura. Juru bicara EMA menyebut total pengurangan yang diterima importir adalah 17 BBTUD selama 18 hari, sementara kebutuhan gas harian Singapura melampaui 1.000 BBTUD.

Meski demikian, PM Wong menegaskan Singapura telah mengantisipasi risiko ini dengan membangun terminal gas alam cair (LNG) agar dapat mengimpor dari berbagai negara tanpa bergantung pada jalur pipa. "Ini memberi kami lebih banyak pilihan untuk mengatasi gangguan pasokan," ujarnya. Singapura juga tengah mengkaji serius tenaga nuklir sebagai sumber energi yang lebih bersih dan andal.

Bagi masyarakat lokal di wilayah penghasil gas seperti Natuna dan Jambi, kebijakan ini diharapkan memperkuat pasokan listrik domestik. Namun, sejumlah kalangan menilai perlunya transparansi alokasi agar pemangkasan ekspor tidak mengorbankan pendapatan daerah penghasil.