Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menyidak sebuah kediaman di kawasan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026). Rumah tersebut diduga menjadi tempat pengoplosan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium.

Amran tiba di lokasi sekitar pukul 11.12 WIB. Setibanya di depan rumah, ia langsung meminta gerbang dibuka untuk melihat aktivitas dan barang bukti di dalamnya. Di lokasi terlihat sejumlah karung beras putih menumpuk, karung beras SPHP yang telah dibongkar, serta kemasan beras berserakan di lantai.

Amran memeriksa beras bersama aparat kepolisian. Ia juga melihat sejumlah karung beras yang dibawa menggunakan truk. Beras tersebut diduga telah dikemas ulang untuk dipasarkan sebagai beras premium. "Ini dia oplos, ya," kata Amran saat memeriksa lokasi.

Menurut Amran, beras SPHP yang seharusnya dijual Rp12.500 per kilogram diduga diubah kemasannya dan dipasarkan sebagai beras premium dengan harga Rp17.000 per kg. "SPHP yang disubsidi pemerintah. Harusnya harganya ini Rp12.500 (per kg), dijual Rp17.000 (per kg), dioplos," ujarnya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Amran menyebut laporan awal yang diterimanya menunjukkan temuan beras mencapai 600 ton. Ia menduga jumlah beras yang telah dioplos dalam jaringan tersebut bisa mencapai ribuan ton. Beras SPHP tersebut diduga berasal dari gudang Bulog di kawasan Kelapa Gading.

Meski demikian, Amran menegaskan keterlibatan pihak lain, termasuk pegawai Bulog, masih harus didalami oleh kepolisian. "Ya dari gudang yang di Kelapa Gading. Ini untuk sementara. Tapi tidak menutup kemungkinan ada terjadi di tempat lain," ujarnya.

Amran meminta kepolisian mengusut kasus tersebut hingga ke jaringan yang lebih luas. Ia menegaskan pihak yang terbukti terlibat harus ditindak tegas, termasuk apabila ditemukan keterlibatan pegawai instansi pemerintah.

Ia menilai praktik pengoplosan tersebut merugikan masyarakat karena beras SPHP merupakan beras bersubsidi yang ditujukan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut Amran, kepolisian telah mengamankan pelaku. Namun, ia meminta proses penyelidikan terus dilanjutkan untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat, termasuk jalur distribusi beras yang diduga telah dipasarkan sebagai beras premium.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

"Sudah ditangkap. Sudah ditangkap. Tetapi kita kalau ini bisa dibongkar sampai akar-akarnya," tegasnya.