JAKARTA — Pemerintah Jepang meminta seluruh warganya menyiapkan persediaan darurat di rumah untuk menghadapi ancaman bencana alam hingga gangguan siber yang berpotensi melumpuhkan layanan publik. Imbauan itu disampaikan Menteri Penanggulangan Bencana Jepang Goshi Hosono dan menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan nasional.
Warga diminta menyimpan makanan, air bersih, obat-obatan, serta kebutuhan pokok lain agar mampu bertahan setidaknya selama tiga hari tanpa bantuan dari luar. Pemerintah mendorong persediaan itu diperpanjang hingga satu minggu demi menghadapi keadaan darurat yang datang tiba-tiba.
"Setidaknya untuk tiga hari, dan idealnya satu minggu, bahkan jika tidak ada bantuan dari pihak luar, Anda harus sudah menyiapkan makanan, fasilitas sanitasi, air, dan kebutuhan lainnya di rumah," kata Hosono dalam keterangan yang dikutip dari siaran televisi Jepang.
Permintaan mendesak itu akan disampaikan kepada kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat pada 2 November mendatang. Waktu tersebut bertepatan dengan pembentukan Badan Pencegahan Bencana nasional yang akan memperkuat koordinasi lintas sektor.
Langkah ini diambil karena Jepang menghadapi sejumlah risiko bencana berskala besar. Ancaman itu mencakup potensi gempa megathrust di Palung Nankai, gempa besar di bawah ibu kota, gempa di sepanjang Palung Kuril dan Palung Jepang, hingga kemungkinan letusan Gunung Fuji.
Hosono menegaskan diperlukan tingkat kesiapsiagaan yang berbeda untuk menghadapi bencana berskala nasional. Pemerintah juga berupaya memperbaiki tempat evakuasi dengan menyediakan kamar mandi, makanan hangat, dan tempat tidur yang layak bagi para pengungsi.
Imbauan serupa sebelumnya juga dikeluarkan Inggris yang meminta masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan kelangkaan pangan hingga gangguan layanan publik akibat serangan siber. Kampanye bertajuk Be Ready itu menyarankan setiap keluarga memiliki persediaan kebutuhan pokok untuk tiga hari.
Bagi masyarakat lokal di Jepang, arahan ini menuntut perubahan kebiasaan rumah tangga. Warga tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah saat bencana terjadi, terutama pada jam-jam awal kritis ketika akses logistik belum tentu terbuka.
Persiapan mandiri dinilai menjadi kunci utama menghadapi gempa megathrust yang dampaknya bisa meluas hingga ke permukiman padat. Pemerintah daerah kini dituntut memastikan sosialisasi berjalan hingga tingkat lingkungan terkecil agar setiap keluarga memiliki stok darurat yang memadai.