Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta percepatan perbaikan atas kendala teknis yang terjadi pada Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur. Permintaan itu disampaikan agar operasional kilang dapat segera berjalan optimal dan memproduksi bahan bakar minyak (BBM) secara maksimal.
Bahlil mengaku telah meninjau langsung perkembangan dan kondisi operasional kilang di lapangan. Menurutnya, meski kilang sudah diresmikan, sejumlah produk belum bisa diproduksi maksimal karena adanya problem teknis. "Saya kemarin dari sana. Memang sebenarnya sudah diresmikan, tapi memang ada beberapa produk yang belum maksimal karena memang terjadi problem," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Dia menegaskan, proses pembenahan komponen yang bermasalah tidak boleh menunda target optimalisasi kilang. "Jadi saya minta untuk dilakukan percepatan kepada sesuatu yang masih problem untuk diperbaiki," tandasnya.
Dampak bagi Masyarakat Kalimantan
Kilang Balikpapan merupakan kilang terbesar di Indonesia dengan kapasitas pengolahan mencapai 360 ribu barel per hari, naik 100.000 barel dari kapasitas sebelumnya. Kilang ini diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026 dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi Rp123 triliun.
Bagi masyarakat Kalimantan Timur dan wilayah Indonesia Timur, kelancaran operasional kilang ini sangat menentukan ketersediaan BBM sehari-hari. Kilang Balikpapan terintegrasi dengan Terminal Tanjung Batu berkapasitas 125.000 kiloliter yang mengalirkan produk ke Indonesia Timur, serta empat dermaga pendukung.
Ketika produksi tidak maksimal, risiko gangguan pasokan solar, bensin, avtur, dan LPG di daerah menjadi lebih besar. Warga pun berharap perbaikan cepat dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan maupun lonjakan harga di tingkat pengecer.
Manfaat Ekonomi yang Dipertaruhkan
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut RDMP Balikpapan sebagai proyek terintegrasi dari hulu hingga hilir. Jantungnya adalah unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu mengolah residu menjadi produk bernilai tambah tinggi. Kualitas produknya setara Euro V yang lebih ramah lingkungan.
Dengan operasional penuh, kilang ini berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun. Proyek ini juga menyerap puluhan ribu tenaga kerja dan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memberi kontribusi signifikan terhadap PDB nasional hingga Rp514 triliun.
Karena itu, percepatan perbaikan yang diminta Bahlil bukan sekadar soal teknis industri. Bagi masyarakat lokal, kelancaran kilang berarti kepastian pasokan energi, stabilitas harga, dan terbukanya lapangan kerja di daerah.