Indonesia tercatat memiliki cadangan terbukti sebesar 2,3 miliar barel minyak bumi dan 35 triliun kaki kubik (TCF) gas bumi yang tersebar di 168 blok hulu migas. Data terbaru ini diungkapkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam forum internasional di Denpasar, Bali.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyatakan bahwa potensi migas nasional masih sangat besar. Indonesia memiliki total 128 cekungan sedimen yang membentang di wilayah Nusantara, namun baru 20 cekungan yang sudah berproduksi.

"Indonesia tentu saja memiliki 128 cekungan sedimen yang mencerminkan skala potensi minyak dan gas bumi hulu kita. Serta memiliki 2,3 miliar barel minyak terbukti dan 35 TCF cadangan gas terbukti dengan 168 blok," ungkap Rikky dalam acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, Senin (26/10/2026).

Bagi masyarakat di daerah penghasil migas, data ini membawa harapan sekaligus tantangan. Pasalnya, dari 128 cekungan tersebut, masih ada 43 penemuan di cekungan yang telah dieksplorasi dan 65 cekungan frontier yang belum tersentuh. Pembukaan wilayah baru berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Untuk membuka potensi di wilayah frontier, SKK Migas telah mengerahkan investasi hingga US$ 300 juta sejak 2019 untuk pengayaan data area terbuka. Langkah ini mencakup akuisisi seismik baru, pengolahan ulang data, hingga survei mega seismik 2D di cekungan Bone-Tukang Besi dan Cekungan Kutai. Tujuannya adalah menekan risiko geologi dan menciptakan peluang investasi baru.

Strategi lain yang dijalankan adalah pengeboran sumur berdampak tinggi (high-impact wells). Pada 2026, terdapat 12 sumur high-impact yang mewakili 80% dari target sumber daya pra-pengeboran. Salah satu rencananya adalah pengeboran Blok Bobara dekat Papua oleh Petronas bersama Total E&P pada pertengahan November, serta kolaborasi dengan Pertamina untuk 38 sumur eksplorasi.

"Strategi eksplorasi kami berfokus pada sumur-sumur berdampak tinggi yang secara signifikan dapat meningkatkan basis sumber daya minyak dan gas nasional," tambah Rikky.

Potensi migas jumbo juga diperkuat melalui pengembangan migas non-konvensional (MNK). SKK Migas telah menandatangani kontrak dengan Pertamina Hulu Rokan untuk Wilayah Kerja Gulamo dan Kelok di Blok Rokan, yang diperkirakan menyimpan potensi sumber daya sebesar 740 juta barel setara minyak.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Aktivitas eksplorasi tersebut mendorong realisasi investasi hulu migas pada 2025 hingga mencapai hampir US$ 15 miliar, naik 4% dibandingkan tahun 2024. Tahun ini, terdapat 3 kontrak blok baru yang efektif serta 6 blok tambahan yang berhasil ditandatangani, termasuk Blok Natuna D-Alpha.

Dengan capaian itu, SKK Migas optimistis potensi 2,3 miliar barel minyak dan 35 TCF gas bumi dapat segera dikonversi menjadi produksi nyata. Bagi daerah-daerah yang selama ini menanti dampak ekonomi dari sektor migas, realisasi produksi menjadi kunci utama.

"Tantangan dan peluang yang dihadapi industri minyak dan gas saat ini membutuhkan tindakan segera, kemitraan yang kuat, dan inovasi yang berkelanjutan," tandas Rikky.