Kilang LNG Masela di Maluku tidak hanya diproyeksikan memenuhi kebutuhan gas dalam negeri. Pemerintah memastikan sebagian produksi gas alam cair dari proyek raksasa itu akan diekspor ke Singapura. Persetujuan alokasi ekspor tersebut telah ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyatakan, alokasi ekspor LNG Masela ditujukan kepada BP Singapura dan Shell Singapura. Sementara itu, gas untuk pasar domestik dialokasikan ke PT PLN (Persero), PT PGN Tbk, dan PT Pupuk Indonesia (Persero).

"Alhamdulillah kemarin dan sehari sebelumnya juga Bapak Menteri telah menandatangani persetujuan alokasi gas domestik, baik itu berupa gas pipa untuk Pupuk Indonesia, untuk PLN, LNG, dan PGN berupa LNG juga," ujar Djoko dalam acara seremoni selesainya seluruh kegiatan Front End Engineering Design (FEED) proyek LNG Abadi Inpex Masela Ltd di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Menurut Djoko, meski porsi ekspor dikurangi, pengiriman LNG ke Singapura tetap konsisten dalam jumlah besar. "Dan kemarin Bapak Menteri juga menandatangani untuk ekspor LNG-nya ke BP Singapura dan juga Shell Singapura. Meskipun kita mengurangi sedikit tapi kita ekspor tetap konsisten banyak ke Singapura," katanya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Djoko menargetkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) Kilang LNG Masela dapat ditandatangani pada Rabu (28/10/2026) dalam acara Forum Ekonomi, Keuangan dan Komersial (FOREK) Hulu Migas 2026. Ia menyebut Menteri ESDM telah mengonfirmasi kehadiran untuk menyaksikan penandatanganan tersebut.

Jika PJBG diteken, keputusan akhir investasi atau Final Investment Decision (FID) Kilang LNG Masela diharapkan terealisasi pada akhir tahun ini atau paling lambat Januari 2027. "PJBG juga merupakan persyaratan utama untuk konsorsium INPEX, Pertamina dan Searah menyelesaikan atau menyetujui atau menandatangani FID-nya," tutur Djoko.

Penyelesaian FEED proyek LNG Abadi Masela diklaim lebih cepat dari target awal yang semula ditentukan tuntas pada akhir tahun ini. Menurut Djoko, pekerjaan utama FEED meliputi Subsea Umbilical Reiser and Flowline (SURF) dan Gas Export Pipeline oleh PT World Sea Indonesia, FEED-FSO oleh konsorsium PT Saipem, PT Tripatra, PT McDermott, PT Teknif Indonesia, dan PT JGC Indonesia, serta FEED OLNG oleh konsorsium JGC-Teknif dan KBR-Samsung-Adhi Karya.

Kualitas FEED diperkuat melalui Independent Design Review yang melibatkan lebih dari 200 profesor dan doktor serta tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Pattimura, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Institut Teknologi Bandung.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Proyek Kilang LNG Abadi Masela merupakan proyek terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sekitar US$20,95 miliar. Target produksinya mencapai 1.380 MMSCFD yang akan diolah menjadi LNG sebesar 9,5 MTPA dan 100 MMSCFD untuk gas pipa domestik, serta produksi kondensat 35.000 barel per hari.

Djoko menyebut produksi gas proyek Abadi direncanakan mulai beroperasi sesuai arahan Presiden, secepatnya pada 2029 atau 2030. "Kalau bisa 2029 bagus, 2030 bagus, atau paling telat ya jangan jauh-jauh dari akhir 2030," tandasnya.

Bagi masyarakat Maluku, proyek ini membawa harapan baru. Selain potensi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal, pasokan gas pipa ke PLN dan Pupuk Indonesia diharapkan memperkuat ketahanan energi dan pangan di wilayah timur Indonesia.