Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan proyek LNG Abadi Masela kini menjadi proyek terbesar di Indonesia. Nilai investasinya mencapai 22 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp399,43 triliun. Klaim itu disampaikan dalam program Squawk Box pada Rabu (28/10/2026).

Proyek ini berlokasi di Blok Masela, perairan Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, Maluku. Bagi masyarakat setempat, angka investasi hampir Rp400 triliun bukan sekadar statistik ekonomi nasional. Angka itu menjadi penanda besarnya harapan terhadap perubahan nasib daerah kepulauan yang selama ini bergantung pada sektor perikanan dan pertanian lahan kering.

Harapan Baru bagi Warga Kepulauan

Warga Maluku Barat Daya menanti dampak langsung dari proyek raksasa ini. Mereka berharap lapangan kerja, peluang usaha, dan perbaikan infrastruktur dasar seperti listrik, jalan, serta pelabuhan dapat terwujud. Selama ini, akses antar-pulau di kawasan tersebut masih terbatas dan bergantung pada transportasi laut yang tidak rutin.

Namun, harapan itu juga dibarengi kekhawatiran. Warga mendesak agar keterlibatan tenaga kerja lokal tidak sekadar formalitas. Mereka meminta pemerintah daerah dan SKK Migas memastikan transfer keterampilan serta pemberdayaan ekonomi berjalan nyata, bukan hanya janji di atas kertas.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Perlu Diwaspadai

Selain peluang kerja, proyek LNG Abadi Masela berpotensi mengubah struktur sosial dan lingkungan di Kepulauan Tanimbar. Nelayan tradisional khawatir aktivitas konstruksi dan operasi kilang memengaruhi wilayah tangkap mereka. Karena itu, dialog antara operator, pemerintah, dan masyarakat adat menjadi kunci agar investasi besar ini tidak memicu konflik baru.

SKK Migas menegaskan posisi proyek sebagai yang terbesar di Tanah Air. Bagi publik lokal, yang paling dinanti bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan bagaimana Rp399 triliun itu benar-benar mengalir menjadi kesejahteraan di pulau-pulau terluar Indonesia.