JAKARTA — Pemerintah menempatkan swasembada pangan sebagai capaian utama dalam dua tahun terakhir. Presiden Prabowo Subianto menyebut hal itu sebagai prestasi pemerintahan Prabowo-Gibran, dengan sejumlah komoditas utama tercatat surplus produksi.

Data pemerintah yang dihimpun dari delapan komoditas pangan utama menunjukkan surplus pada beberapa jenis. Beras tercatat surplus 3,67 juta ton, sementara jagung surplus 1,56 juta ton. Kedelapan komoditas itu meliputi beras, jagung, gula konsumsi, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Antisipasi Geopolitik dan Iklim

Upaya mendorong swasembada pangan dinilai sejalan dengan antisipasi terhadap risiko geopolitik hingga perubahan iklim. Namun, capaian itu harus dipastikan berdampak positif terhadap daya tahan ekonomi, termasuk menekan impor, menjaga inflasi, dan mempertahankan daya beli masyarakat.

Bagi masyarakat lokal, terutama petani dan konsumen rumah tangga, surplus produksi belum tentu berarti harga di pasar ikut turun. Hambatan distribusi masih menjadi persoalan yang bisa memicu kenaikan harga di daerah, terutama di wilayah yang jauh dari sentra produksi.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

El Nino dan Food Loss

Tantangan menjaga produksi di tengah ancaman El Nino menjadi perhatian tersendiri. Kekeringan berpotensi menurunkan hasil panen, sementara sistem penyimpanan yang belum memadai memperbesar risiko food loss hingga 25 persen.

Angka itu menjadi peringatan bahwa sebagian hasil produksi bisa hilang sebelum sampai ke tangan konsumen. Jika tidak ditangani, kehilangan pangan dalam jumlah besar akan menggerus manfaat surplus dan memperlemah ketahanan pangan di tingkat lokal.

Karena itu, keberlanjutan produksi, perbaikan distribusi, dan penguatan penyimpanan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Klaim swasembada pangan pada akhirnya akan diuji di lapangan: apakah petani memperoleh harga layak dan masyarakat dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau.