Masyarakat kini dapat mengecek kerawanan bencana geologi langsung dari lokasi tempatnya berada melalui ponsel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi meluncurkan MAGMA Indonesia versi terbaru yang menyatukan informasi aktivitas gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah dalam satu layanan.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menyatakan, sistem yang telah dibangun itu memungkinkan informasi kebencanaan dibagikan antarkementerian dan lembaga. Dengan begitu, pelayanan informasi kebencanaan dan mitigasi risiko bagi keselamatan masyarakat berjalan dalam satu rangkaian.

"Jadi nanti dari pemanfaatan sistem yang sudah dibangun, informasi yang sudah dibangun ini kita bisa sharing-kan dengan Kementerian/Lembaga," ujar Yuliot dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Bagi warga di daerah rawan, pembaruan ini menghadirkan fitur Geohazard Location Awareness. Fitur tersebut mengenali posisi pengguna terhadap kawasan rawan bencana geologi, sehingga masyarakat bisa mengetahui tingkat risiko di sekitar tempat tinggalnya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Sepuluh Pembaruan Fitur

Versi terbaru hadir sebagai aplikasi multiplatform yang dapat diakses melalui web dan perangkat Android, serta kini resmi tersedia bagi pengguna iOS. Peluncuran ini menjadi bagian dari transformasi digital layanan informasi kebencanaan geologi.

MAGMA Indonesia membawa 10 pembaruan fitur utama. Selain Geohazard Location Awareness, pembaruan mencakup pemantauan visual CCTV dan live seismogram yang lebih stabil, riwayat aktivitas kebencanaan, serta integrasi data melalui Application Programming Interface (API).

Untuk peringatan dini, sistem ini memakai Common Alerting Protocol (CAP) sebagai format standar. Yuliot meminta hasil pemantauan diterjemahkan menjadi langkah nyata di setiap instansi. "Dari mitigasi ini harus kita uraikan di dalam rencana aksi untuk setiap Kementerian/Lembaga," katanya.

Ia berharap informasi kebencanaan dapat dipakai untuk peringatan dini, kesiapsiagaan, dan pengambilan keputusan. Dengan akses yang makin luas, masyarakat dapat memantau informasi bencana geologi kapan saja dan di mana saja sebagai bekal mengurangi risiko dan dampaknya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Dorong Aksi Dini Warga

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, pengembangan MAGMA Indonesia diarahkan agar informasi kebencanaan mendorong tindakan yang lebih cepat dan tepat. "Sistem ini pada intinya dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan aksi dini (early action) yang tepat sasaran, sehingga risiko dan dampak dari bencana geologi dapat diminimalisir," ujar Lana.

Integrasi API juga membuka akses data bagi lembaga lain. BNPB, BPBD, kementerian dan lembaga, serta pemangku kepentingan lainnya dapat memanfaatkan informasi MAGMA Indonesia langsung di sistem masing-masing. "Integrasi ini diharapkan memperkuat koordinasi dan mempercepat penyampaian informasi kepada pengambil kebijakan maupun masyarakat," kata Lana.