Gelombang demonstrasi besar kembali membanjiri jalanan Tirana, ibu kota Albania, pada Minggu waktu setempat. Aksi protes ini pecah hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Edi Rama mengumumkan aturan tegas untuk membendung kerusuhan antipemerintah. Massa yang didominasi mahasiswa menuntut pengunduran diri Rama dengan membakar kursi-kursi yang sengaja disiapkan pemerintah sebagai simbol dialog.
Demonstrasi ini dipicu oleh kemarahan atas dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan pekerjaan, dan buruknya standar pendidikan. Krisis yang bermula di pusat kota Tirana kini merambat ke berbagai kota lain dan melumpuhkan aktivitas warga. Di tengah guyuran hujan, pengunjuk rasa berkerumun di depan gedung Kementerian Pendidikan sebelum berjalan menuju kantor Rama.
Anarkisme dan Respons Pemerintah
Massa bertindak semakin anarkis dengan membakar sejumlah gedung pemerintahan dan fasilitas bank. Mereka juga menghancurkan kaca pertokoan dan mencabut batu ubin jalanan untuk dilemparkan ke arah aparat kepolisian. Menanggapi eskalasi tersebut, Rama pada Minggu pagi memperkenalkan sanksi denda sebesar 500.000 lek atau sekitar Rp111,384 juta bagi siapa saja yang berpartisipasi dalam protes yang berubah menjadi kekerasan, bahkan jika orang tersebut tidak secara langsung melakukan tindakan kekerasan.
"Saya percaya bahwa mereka yang menuntut pengunduran diri saya keliru jika mereka pikir mereka dapat memaksakannya melalui kekerasan atau cara lain," ungkap Rama. "Tetapi saya tidak percaya bahwa semua yang mereka katakan atau tuntut itu salah," tambahnya.
Dampak bagi Masyarakat Lokal
Bagi warga Tirana, gelombang protes ini membawa dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Aktivitas ekonomi di pusat kota terhambat, sementara kerusakan fasilitas publik dan bank menimbulkan kekhawatiran akan biaya pemulihan yang harus ditanggung negara. Para pedagang kecil dan pekerja harian menjadi pihak paling rentan ketika akses jalan ditutup dan pertokoan menjadi sasaran vandalisme.
Kericuhan ini menyusul aksi protes damai pada musim panas lalu yang menentang proyek pengembangan pesisir mewah yang didukung menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner. Eskalasi ini menjadi tantangan politik terbesar bagi kepemimpinan Rama yang telah memerintah Albania sejak tahun 2013 dan baru saja memenangkan masa jabatan keempatnya pada tahun lalu. Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa gelombang protes akan mereda.