Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump mengeklaim berhasil memediasi gencatan senjata terbatas antara Rusia dan Ukraina di Kota Oleshky, wilayah selatan Ukraina. Kesepakatan itu dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Oktober 2026 dan memungkinkan penghentian sementara seluruh aktivitas militer di kota tersebut.
Dalam keterangan resmi yang dirilis Gedung Putih, Selasa (27/10/2026) waktu setempat, Melania menyatakan tujuan gencatan senjata ini adalah membuka akses bantuan kemanusiaan sekaligus mempersiapkan evakuasi warga sipil melalui jalur aman yang telah ditentukan. Bagi warga yang masih bertahan di Oleshky, kesepakatan ini menjadi harapan baru di tengah kondisi kota yang berada di garis depan pertempuran.
Kondisi Warga di Garis Depan
Melania menggambarkan situasi di Oleshky sangat memprihatinkan. Sebagian besar penduduk yang tersisa merupakan warga lanjut usia yang membutuhkan perawatan medis, obat-obatan, makanan, dan air bersih. Pasokan listrik di kota itu juga terbatas, sementara jalan-jalan dipasangi ranjau dan serangan militer terus terjadi.
"Situasi di Oleshky sangat buruk. Oleshky adalah kota perang di garis depan yang berada di ambang bencana," kata Melania dalam pernyataan tersebut. Ia menegaskan tanpa intervensinya, upaya membawa bantuan kemanusiaan dan mengevakuasi warga lanjut usia tidak akan terwujud.
Menurut Melania, ia bersama seorang perwakilan telah berkomunikasi langsung dengan para pemimpin Rusia dan Ukraina untuk merumuskan ketentuan gencatan senjata. Dalam kapasitasnya sebagai mediator eksklusif, ia mengaku menginisiasi pembicaraan dan menyelaraskan tujuan kesepakatan, prosedur teknis, jadwal, hingga mekanisme pelaksanaan.
Mekanisme Bantuan dan Evakuasi
Para pejabat sipil nonmiliter dari kedua negara akan bekerja sama mendatangi rumah-rumah warga Oleshky untuk menilai bantuan yang dibutuhkan masing-masing keluarga. Warga yang ingin meninggalkan kota akan mendapatkan dukungan terkoordinasi serta transportasi menuju tujuan pilihan mereka.
"Saya memperkirakan sebagian warga ingin pergi ke Rusia, sementara yang lain ingin ke Ukraina," ujar Melania. Ia juga mengungkapkan telah mendapatkan persetujuan sebuah organisasi media Amerika Serikat independen untuk mendampingi dan mendokumentasikan kegiatan tim Rusia dan Ukraina di lapangan.
Melania pertama kali mengetahui kondisi mendesak di Oleshky dalam diskusi tertutup pada acara Fostering the Future Together di New York, di sela-sela Sidang Umum PBB ke-81. Ia dan perwakilannya kemudian memanfaatkan jalur komunikasi yang sebelumnya dibangun dengan Rusia dan Ukraina dalam proses reunifikasi enam kelompok yang melibatkan 34 anak.
Dampak bagi Masyarakat Lokal
Oleshky terletak di wilayah selatan Ukraina, tepat di seberang Sungai Dnipro dari Kota Kherson. Sebelum perang, sekitar 24.000 orang tinggal di kota tersebut. Kini, jumlah penduduk yang tersisa diperkirakan hanya berkisar 1.700 hingga 2.000 orang, sebagian besar warga lanjut usia yang tidak dapat meninggalkan wilayah itu, serta sekitar 50 anak.
Belum ada pendataan demografi resmi di Oleshky sejak 2022. Sejak perang berlangsung, kota itu terus berada di garis depan pertempuran sehingga sebagian besar penduduknya terpaksa mengungsi atau dievakuasi. Kondisi makin memburuk setelah Bendungan Kakhovka hancur, yang menyebabkan sekitar 90 persen wilayah kota terendam banjir.
Gencatan senjata terbatas ini menjadi angin segar bagi warga sipil yang selama ini hidup dalam ketidakpastian. Namun, keberhasilan kesepakatan akan sangat bergantung pada pelaksanaan di lapangan dan jaminan keamanan bagi tim kemanusiaan yang akan bekerja.