Gelombang demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup yang melanda sejumlah kota di Eropa kini merambah Italia. Pada Sabtu (17/10), pusat Kota Milan, termasuk kawasan Piazza del Duomo, berubah menjadi arena bentrokan setelah sekelompok demonstran bertopeng melemparkan batu dan benda keras ke arah polisi.

Sejumlah toko dijarah, kendaraan dirusak, dan barikade dari meja serta kursi dibakar. Aparat terpaksa menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa, sehingga kawasan yang biasanya ramai wisatawan itu sempat dikosongkan.

Warga Lokal Merasakan Dampak Langsung

Bagi warga Milan, aksi ini bukan sekadar kerusuhan di pusat kota. Tekanan ekonomi yang memicu demonstrasi justru dirasakan setiap hari, terutama oleh pekerja muda dan berpenghasilan rendah yang kesulitan menyewa hunian serta memenuhi kebutuhan pokok.

Milan dikenal sebagai pusat bisnis, mode, dan keuangan Italia. Namun pertumbuhan upah dinilai tidak sebanding dengan lonjakan biaya tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Kondisi inilah yang mendorong warga turun ke jalan menuntut kesejahteraan, daya beli, dan kebijakan ekonomi yang lebih berpihak.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

"Alasan masyarakat melakukan protes dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat dan kerusakan serius terhadap kota tidak bisa dibenarkan," kata Wali Kota Milan Giuseppe Sala, sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya.

Korban dan Penangkapan

Bentrokan hari pertama menahan sekitar 50 demonstran, termasuk sejumlah anak di bawah umur. Sedikitnya dua polisi dilaporkan mengalami luka-luka. Keesokan harinya, Minggu (18/10), kerusuhan kembali pecah ketika ratusan anak muda berkumpul di sekitar Piazza del Duomo dan kembali merusak fasilitas jalan.

Laporan menyebut lebih dari 60 orang dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan. Kerusuhan dua hari itu menyebabkan 25 orang dirawat di sejumlah rumah sakit Milan, sepuluh di antaranya personel kepolisian.

Bukan Sekadar Soal Harga

Aksi di Milan juga menyuarakan penolakan terhadap perang dan kebijakan pemerintah. Kombinasi isu ekonomi dan politik membuat demonstran datang dari berbagai latar belakang. Namun, tindakan anarkis dilakukan oleh sebagian kelompok, bukan mewakili seluruh peserta yang menyampaikan aspirasi secara damai.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam kekerasan selama demonstrasi. Ia menegaskan masyarakat berhak menyampaikan pendapat, tetapi membakar fasilitas umum, menjarah toko, dan menyerang polisi tidak dapat dibenarkan. Pemerintah dijadwalkan menggelar pertemuan pada Senin (19/10) guna membahas situasi keamanan.

Kerusuhan di Milan berlangsung hampir bersamaan dengan demonstrasi besar di Prancis yang diwarnai penjarahan dan pembakaran bangunan. Di Prancis, lebih dari 2.400 orang ditangkap dan hampir 1.000 personel kepolisian cedera, sementara seorang demonstran meninggal di Paris. Meski waktunya berdekatan, belum ada dasar cukup untuk menyimpulkan kedua peristiwa dikendalikan kelompok yang sama.