Kuda Thoroughbred menjadi tulang punggung dunia pacuan internasional, tetapi di Indonesia ras ini justru berperan sebagai katalis lahirnya rumpun kuda pacu lokal. Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) telah mengupayakan persilangan dengan pejantan Thoroughbred impor sejak 1975 untuk meningkatkan kualitas kuda pacu nasional.
Langkah tersebut tidak sekadar mengejar kecepatan. Persilangan dilakukan agar kuda hasil pemuliaan tetap mampu beradaptasi dengan iklim tropis dan kondisi pemeliharaan di dalam negeri.
Jejak Sandelwood dari Sumba
Salah satu kuda lokal yang menjadi fondasi program ini adalah Sandelwood atau Sandel, yang banyak ditemukan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tubuhnya relatif kecil, tetapi lincah dan tangguh. Kuda ini telah lama menjadi bagian kehidupan masyarakat Sumba, baik untuk tunggangan, kegiatan adat, maupun pacuan tradisional.
Persilangan Sandelwood dengan Thoroughbred dari Australia disebut menghasilkan keturunan yang lebih bertenaga dan memiliki kecepatan lebih tinggi. Perpaduan inilah yang memperlihatkan bahwa pengembangan kuda pacu Indonesia tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Standar Genetik Kuda Pacu Indonesia
Keturunan Thoroughbred di Indonesia tidak seluruhnya berstatus ras murni. Sebagian merupakan hasil persilangan bertahap yang dikenal dengan tahapan generasi G1, G2, G3, dan G4. Persilangan pertama antara kuda betina lokal dan pejantan Thoroughbred menghasilkan keturunan dengan perkiraan 50 persen darah Thoroughbred. Jika keturunan itu kembali dikawinkan dengan Thoroughbred murni, proporsinya secara teoritis naik menjadi 75 persen.
Dokumen pelepasan rumpun Kuda Pacu Indonesia (KPI) pada 2013 mencantumkan komposisi genetik sekitar 87,5 hingga 93,75 persen Thoroughbred dan 6,25 hingga 12,5 persen kuda lokal. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa KPI dikembangkan melalui persilangan bertahap untuk menggabungkan kemampuan pacu Thoroughbred dengan karakter kuda lokal.
Meski demikian, persentase darah tidak otomatis menentukan status ras seekor kuda. Status registrasi tetap bergantung pada aturan silsilah dan persyaratan yang berlaku. Kuda pacu Indonesia yang memiliki darah Thoroughbred tidak serta-merta dapat disebut Thoroughbred murni karena memiliki identitas dan sistem registrasi tersendiri.
Dampak bagi Peternak dan Komunitas Lokal
Penelitian di repositori Institut Pertanian Bogor mengenai prestasi kuda dalam Kejuaraan Nasional Pacuan Derby Indonesia periode 1974-2015 mencatat bahwa kuda generasi keempat atau G4 memiliki prestasi menonjol. Kuda dengan proporsi darah Thoroughbred lebih tinggi berpeluang menunjukkan performa lebih baik pada jarak pacu yang lebih jauh.
Temuan itu memperlihatkan pentingnya program pemuliaan yang terarah, meskipun performa setiap kuda tetap dipengaruhi latihan, kesehatan, dan karakter individu. Bagi masyarakat daerah, ajang pacuan di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara tidak hanya menjaga tradisi berkuda, tetapi juga menjadi ruang ekonomi bagi pemilik stable, peternak, joki, dan komunitas.
Kehadiran berbagai kelompok kuda, termasuk KPI dan hasil persilangan lainnya, menunjukkan bahwa pacuan Indonesia memiliki karakter tersendiri. Selain mengejar kecepatan, pengembangan kuda pacu berkaitan erat dengan pembibitan lokal, adaptasi terhadap iklim tropis, serta keberlanjutan peternakan kuda di daerah.