Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengumumkan capaian sektor pertanian Indonesia yang disebutnya sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Nilai Tukar Petani (NTP) kini berada di angka 131, sementara cadangan stok beras pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton. Kedua angka itu diklaim melampaui capaian pada era pemerintahan Presiden kedua, Soeharto, bahkan sejak Indonesia merdeka.

Pernyataan itu disampaikan Amran dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Rabu (21/10/2026). Menurutnya, lonjakan NTP tidak lepas dari kebijakan Presiden yang menurunkan harga pupuk hingga 20 persen dan menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras. Kebijakan itu, katanya, dinikmati langsung oleh 115 juta petani di seluruh Indonesia.

"Karena kebijakan Bapak Presiden, harga pupuk turun 20% dinikmati 115 juta petani Indonesia. Kemudian HPP, harga gabah beras naik, sehingga sekarang NTP-nya 131, dan ini tertinggi sejak '92 bahkan sejak merdeka," ujar Amran, dikutip Jumat (23/10/2026).

Dari sisi cadangan pangan, Amran memaparkan stok beras nasional pada Oktober 2026 menembus 4,56 juta ton. Angka itu jauh melampaui rekor sebelumnya pada 1984 yang hanya 2,6 juta ton saat Indonesia mencapai swasembada beras di bawah kepemimpinan Soeharto. Ia juga menyebut stok beras pernah menyentuh 5,37 juta ton pada periode tertentu.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Ketersediaan Beras Capai 25 Juta Ton

Amran menegaskan ketahanan pangan nasional tidak hanya ditopang stok di gudang, tetapi juga potensi produksi dari tanaman yang masih berada di lahan atau standing crop serta cadangan di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). Standing crop diperkirakan mencapai 10 juta ton, sektor horeka 10 juta ton, ditambah 4,5 juta ton di gudang. Total ketersediaan beras yang dipaparkan mencapai 25 juta ton.

Dengan kebutuhan nasional 2,5 juta ton per bulan, Amran menyimpulkan stok beras Indonesia aman hingga Juli tahun depan. "Kalau 25 juta ton bagi 2,5 itu 10 bulan, sampai bulan Juli tahun depan stok kita aman," katanya.

Selain NTP dan stok beras, Amran memaparkan kinerja sektor pertanian yang menunjukkan tren positif. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tercatat tumbuh 5,74 persen, pertumbuhan tertinggi dalam periode 2001–2025. Nilai ekspor meningkat hingga Rp166 triliun, sedangkan impor turun Rp41 triliun.

Secara keseluruhan, Amran mengklaim nilai tambah sektor pertanian mencapai Rp208 triliun bagi perekonomian nasional. "Totalnya 208 triliun. Itu nilai tambah yang didapatkan petani karena harga pupuk turun 20%, HPP dinaikkan oleh Bapak Presiden," tuturnya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Bagi masyarakat lokal, terutama rumah tangga petani di daerah sentra produksi, penurunan harga pupuk dan kenaikan HPP berdampak langsung pada peningkatan daya beli. NTP yang lebih tinggi mencerminkan pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibanding biaya produksi. Sementara stok beras yang melimpah hingga pertengahan tahun depan menjadi jaminan ketersediaan pangan dan stabilitas harga di pasar lokal.