Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp1 triliun untuk memperkuat ekosistem jagung pakan ternak dari hulu hingga hilir. Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam program Evening Up yang tayang pada Selasa (27/10/2026). Anggaran tersebut mencakup penyediaan bibit, sarana pendukung, hingga penguatan kemitraan antara petani jagung dan peternak.

Langkah ini menjadi sinyal positif bagi masyarakat lokal, terutama petani jagung dan peternak rakyat yang selama ini bergantung pada pasokan pakan ternak. Dengan adanya dukungan bibit dan sarana produksi, diharapkan biaya budidaya jagung dapat ditekan sehingga harga pakan ternak lebih stabil di tingkat peternak.

Selain itu, penguatan kemitraan antara petani dan peternak dinilai krusial untuk memutus rantai distribusi yang panjang. Petani jagung lokal bisa memperoleh kepastian pasar, sementara peternak mendapat pasokan pakan yang lebih terjamin. Skema kemitraan ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku pakan.

Bagi masyarakat di daerah sentra jagung, alokasi anggaran ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Permintaan bibit dan sarana produksi akan menggerakkan usaha kecil di pedesaan, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Pemerintah menegaskan fokus program adalah memperkuat ekosistem dari hulu sampai hilir, bukan sekadar menambah subsidi.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Meski demikian, efektivitas anggaran Rp1 triliun ini akan sangat bergantung pada mekanisme penyaluran dan pendampingan petani di lapangan. Pengawasan mutlak diperlukan agar bibit berkualitas dan kemitraan berjalan adil bagi kedua belah pihak. Pemerintah belum merinci alokasi per daerah, namun menegaskan program ini menyasar sentra-sentra produksi jagung nasional.