Pemilihan umum Israel digelar pada Selasa (27/10/2026) di tengah persaingan ketat antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan blok oposisi yang dalam sejumlah jajak pendapat unggul tipis. Netanyahu, yang telah mendominasi panggung politik Israel sekitar tiga dekade, kini menghadapi tekanan politik sekaligus persoalan hukum yang berpotensi mengancam posisinya jika ia kehilangan kekuasaan.

Menjelang pemungutan suara, Netanyahu gencar melontarkan peringatan bernada ancaman terkait program nuklir Iran. Ia bahkan mengunggah gambar yang memperlihatkan awan jamur nuklir menghancurkan Tel Aviv, dan menyerukan agar pemilih waspada terhadap ancaman kehancuran akibat senjata nuklir jika memilih oposisi.

Ketegangan dengan Militer

Laporan televisi Israel menyebut Netanyahu berselisih dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir dalam beberapa hari terakhir. Perselisihan itu berkaitan dengan instruksi kepada militer yang berpotensi memicu konflik langsung dengan Iran pada situasi sangat sensitif. Zamir dilaporkan meminta instruksi tersebut disampaikan secara tertulis kepadanya.

Netanyahu membantah laporan itu, dan Kementerian Pertahanan Israel menyatakan tidak memiliki rencana melancarkan operasi militer terhadap Iran. Namun, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam pernyataannya tidak secara tegas membantah pemberitaan mengenai kemungkinan operasi militer tersebut, hanya menegaskan bahwa setiap keputusan diambil berdasarkan pertimbangan keamanan, profesional, objektif, dan nasional.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Oposisi Menolak Militer Dijadikan Alat Politik

Gadi Eisenkot, pemimpin blok oposisi dan salah satu penantang utama Netanyahu, menyatakan kepercayaannya kepada Zamir. Mantan jenderal yang telah pensiun dari militer itu menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan IDF dijadikan pion dalam kampanye Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan.

Sejumlah besar jajak pendapat memperkirakan blok oposisi yang didominasi kelompok kanan-tengah berpeluang meraih lebih banyak kursi di Knesset dibandingkan koalisi Netanyahu. Meski demikian, kedua kubu diperkirakan kesulitan memperoleh 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan mayoritas, sehingga membuka peluang terbentuknya pemerintahan minoritas, pemilu ulang, hingga kemungkinan Netanyahu kembali memperkuat posisinya.

Netanyahu menggambarkan pilihan politik warga Israel sebagai persoalan hidup dan mati. Ia menyebut blok oposisi sebagai kelompok kiri yang bersekutu dengan warga Palestina dan menganggap mereka ancaman bagi Israel, meski partai-partai oposisi utama sebagian besar berasal dari kelompok kanan atau kanan-tengah yang juga menentang pembentukan negara Palestina.

Tekanan Hukum dan Dukungan Eksternal

Dalam beberapa tahun terakhir, Netanyahu dinilai makin mengarah pada pemerintahan otoriter. Ia berupaya membatasi independensi lembaga peradilan serta menjadikan kepolisian dan badan keamanan dalam negeri sebagai instrumen politik. Netanyahu juga tengah menjalani persidangan terkait tuduhan korupsi, yang posisinya berpotensi semakin terancam jika ia kehilangan kekuasaan.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Pada tahap akhir kampanye, Netanyahu turut menonjolkan dukungan terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang kembali menyatakan dukungannya melalui media sosial. Dukungan itu menjadi salah satu faktor yang dipertaruhkan dalam pemungutan suara kali ini.