Pemerintah menyatakan swasembada delapan komoditas pangan strategis telah tercapai. Capaian ini ditopang neraca produksi yang menunjukkan pasokan dalam negeri melampaui kebutuhan masyarakat, sehingga menghasilkan surplus agregat sekitar 4,69 juta ton.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut keberhasilan tersebut sebagai perkembangan penting dalam penguatan kemandirian pangan nasional. "Pangan kita sudah berhasil swasembada di delapan komoditas. Beras sudah penuh swasembada," ujarnya.

Delapan komoditas yang dimaksud meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026, total produksi kedelapan komoditas itu mencapai 72,91 juta ton, sementara kebutuhan nasional 68,22 juta ton.

Dampak Nyata bagi Petani dan Masyarakat Lokal

Bagi petani di daerah, kebijakan pangan pemerintah tidak berhenti pada regulasi. Pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Untuk 2026, alokasi pupuk bersubsidi ditetapkan 9,55 juta ton dengan sasaran lebih dari 16 juta petani. Kebijakan itu disertai perbaikan tata kelola pupuk, percepatan rehabilitasi irigasi, perluasan teknologi pertanian, serta penguatan penyerapan gabah dan beras.

Di tingkat pasar, surplus produksi menjadi modal menjaga stabilitas pasokan dan mengantisipasi gejolak harga. Jagung diproyeksikan surplus 1,56 juta ton, gula konsumsi 207 ribu ton, daging ayam ras 876 ribu ton, dan telur ayam ras 516 ribu ton.

Komoditas hortikultura juga mencatat surplus, yaitu cabai besar 588 ribu ton, cabai rawit 595 ribu ton, dan bawang merah 63 ribu ton. Ketersediaan yang melimpah diharapkan menjaga harga tetap terjangkau bagi rumah tangga.

Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Rekor Bulog

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pangan merupakan fondasi kedaulatan bangsa. Menurutnya, dalam situasi krisis, uang tidak menjamin sebuah negara bisa membeli beras dari luar negeri.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi fenomena iklim El Niño maupun La Niña. Swasembada dinilai tetap terjaga meski terdapat kekeringan panjang pada 2025-2026.

Pada komoditas beras, pengadaan cadangan pemerintah oleh Perum Bulog menembus rekor. Hingga 11 Oktober 2026, realisasi pengadaan melalui skema Public Service Obligation mencapai 4.131.492 ton setara beras, atau 103,29 persen dari target empat juta ton.

Angka itu melampaui capaian sepanjang 2025 sebesar 3.191.969 ton setara beras. Bagi masyarakat lokal, serapan gabah yang kuat menjadi jaminan hasil panen petani terserap dengan harga wajar.