Jakarta, Indo Fokus — Qatar, yang sebelumnya menjadi salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar dunia, kini harus membeli pasokan dari pesaingnya, Amerika Serikat. Perusahaan minyak dan gas milik negara QatarEnergy sepakat mengimpor 4 juta ton LNG per tahun dari perusahaan AS, Cheniere Energy, hingga 2054.
Kesepakatan itu menandai perubahan besar bagi Qatar yang sebelum perang menempati posisi kedua setelah AS dalam ekspor LNG global. CEO Cheniere Energy, Jack Fusco, menyatakan perusahaannya siap memasok QatarEnergy dari fasilitas Sabine Pass dan Corpus Christi.
"Kami berharap dapat memasok QatarEnergy secara andal dari Sabine Pass maupun Corpus Christi hingga paruh kedua abad ini," ujarnya.
Kerusakan Fasilitas Akibat Serangan Iran
Kemunduran industri gas Qatar terjadi setelah serangan Iran pada Maret merusak dua lini produksi utama di kompleks Ras Laffan. Kerusakan tersebut melumpuhkan sekitar 17% kapasitas ekspor LNG negara itu.
Menteri Energi Qatar, Saad Sherida Al-Kaabi, memperkirakan perbaikan fasilitas membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Ia menyebut serangan itu sebagai pukulan telak bagi kapasitas produksi Qatar untuk beberapa tahun ke depan.
Kondisi semakin sulit karena jalur ekspor Qatar bergantung pada Selat Hormuz yang terganggu akibat perang dan serangan terhadap kapal tanker. Al-Kaabi mengatakan Qatar hanya mampu mengekspor LNG dalam jumlah sangat kecil karena tidak dapat mengirimkan pasokan melalui selat tersebut.
"Hanya segelintir kapal yang melintasi selat itu, itu pun dalam jumlah yang sangat kecil," katanya.
Dominasi AS di Pasar LNG Global
Alex Munton, direktur gas global dan LNG di Rapidan Energy, menilai kontrak jangka panjang dengan Cheniere mencerminkan upaya Qatar mengantisipasi risiko gangguan pelayaran yang berkepanjangan. Menurutnya, LNG sangat bergantung pada transportasi laut karena gas harus dicairkan sebelum dimuat ke kapal.
"Mereka harus melewati Selat Hormuz. Tidak ada cara lain untuk mengirimkan LNG ke pasar. Mereka benar-benar terjebak," ujar Munton.
Kesepakatan Qatar tersebut sekaligus memperkuat posisi perusahaan gas AS di pasar global. Sejak perang dimulai, saham Cheniere dilaporkan naik 26%, sedangkan saham Venture Global meningkat 40%.
Munton mengatakan pembeli kini semakin mengandalkan AS untuk mendiversifikasi pasokan energi, sementara sejumlah proyek ekspor LNG baru terus dibangun di negara tersebut. QatarEnergy juga dilaporkan tengah menjajaki tambahan pasokan dari AS.
Venture Global berada dalam pembicaraan lanjutan untuk memasok 3 juta ton LNG per tahun kepada QatarEnergy. Analis UBS Manav Gupta menilai kesepakatan dengan Cheniere dapat membantu Qatar memenuhi komitmen pengiriman internasional di tengah terbatasnya produksi domestik.
Sebelum perang, Qatar mengandalkan kompleks Ras Laffan sebagai pusat utama produksi dan ekspor gas, dengan pasokan penting bagi pasar Asia dan Eropa. Qatar juga tengah memperluas kapasitas produksinya melalui proyek North Field, tetapi kerusakan fasilitas dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz kini menghambat ambisi tersebut.
Meski volume pembelian Qatar dari Cheniere kurang dari 1% perdagangan LNG global yang melampaui 400 juta ton per tahun, Munton menyebutnya sebagai salah satu kesepakatan individual terbesar di pasar LNG AS. Kontrak tersebut memperlihatkan bagaimana perang tidak hanya mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah, tetapi juga membuka peluang bagi AS untuk memperluas dominasi sebagai eksportir LNG dunia.