Pertemuan para menteri luar negeri negara anggota Group of Twenty (G20) di Atlanta, Amerika Serikat, berakhir tanpa kesepakatan bersama. Forum ekonomi terbesar dunia itu gagal menerbitkan komunike bersama lantaran perpecahan antarnegara, terutama akibat perang Rusia-Ukraina. Pertemuan dua hari hingga Sabtu (31/10/2026) itu hanya menghasilkan pernyataan ketua yang merangkum jalannya pembahasan.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengaku tidak melihat peluang mencapai solusi yang diterima secara universal atas persoalan global yang dibahas. "Saya tidak akan berpura-pura kepada Anda hari ini bahwa kita sudah dekat untuk menemukan solusi atas masalah-masalah ini yang diterima secara universal," kata Rubio dalam konferensi pers penutupan pertemuan.
Meski begitu, Rubio menilai sejumlah negara anggota masih dapat bekerja sama menyelesaikan persoalan tertentu, khususnya rantai pasok dan mineral kritis. Menurut dia, keamanan rantai pasok merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi sehingga jalur perdagangan strategis dunia harus tetap terbuka dan aman.
Jalur Pelayaran dan Harga Energi
Dalam pembahasan bersama sejumlah mitra, termasuk Australia, India, dan Jepang, isu keamanan jalur pelayaran menjadi perhatian. Cakupannya meluas dari Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, hingga Laut China Selatan. Rubio menegaskan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb harus tetap aman dan terbuka bagi aktivitas perdagangan.
Bagi masyarakat di daerah, gesekan di forum itu bukan sekadar perdebatan diplomatik. Berbagai persoalan tersebut turut meningkatkan ketidakpastian perdagangan dan mendorong volatilitas harga energi global. Ketidakpastian itu berpotensi merembet ke biaya logistik, harga barang kebutuhan, serta perencanaan usaha kecil di daerah yang bergantung pada pasokan dari luar.
Foto Bersama Dibatalkan
Perbedaan pandangan terlihat sejak awal pertemuan. Rubio membatalkan agenda foto bersama tradisional para menteri luar negeri G20 setelah sejumlah diplomat Eropa menyampaikan keberatan atas kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Para diplomat Eropa mengancam memboikot sesi foto jika Lavrov ikut serta.
Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski mengaku tidak terkejut dengan kegagalan mencapai kesepakatan. "Perang sedang berlangsung, dan kita memiliki pihak-pihak yang terlibat dalam perang tersebut duduk bersama di meja yang sama. Jadi, sangat sulit untuk menyepakati satu sikap bersama," ujarnya.
Lavrov menegaskan Moskow tidak akan membiarkan Ukraina menimbulkan ancaman militer terhadap kepentingan keamanan Rusia. Selain konflik Rusia-Ukraina, potensi intervensi militer baru Amerika Serikat terhadap Iran juga membayangi pertemuan. Arab Saudi, salah satu anggota G20, berada dalam kondisi waspada.
Meski pertemuan tingkat menteri luar negeri berakhir tanpa komunike, sejumlah diplomat menyatakan negara peserta tetap berupaya mengatasi perbedaan menjelang pertemuan puncak para pemimpin G20 bulan depan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan tersebut di Florida pada Desember mendatang.