Gelombang demonstrasi melanda sejumlah negara Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Sedikitnya delapan negara terdampak, mulai dari Jerman dan Austria hingga Prancis, Albania, Italia, Belgia, Portugal, dan Serbia. Pemicunya beragam, mulai dari anggaran pendidikan, mahalnya biaya hidup, krisis perumahan, hingga dugaan korupsi.

Di Jerman, organisasi mahasiswa bersama partai oposisi Die Linke menyiapkan demonstrasi nasional pada 31 Oktober 2026 di berbagai kota. Aksi itu menuntut peningkatan pendanaan pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, penambahan guru, serta ukuran kelas yang lebih kecil. Gerakan pemuda juga mengangkat isu perlindungan iklim, kenaikan biaya hidup, dan penolakan wajib militer.

Juru bicara Konferensi Mahasiswa Federal, Isabelle Seltenreich, menyebut tuntutan mereka sejalan dengan aksi di Prancis dan Italia. Sejumlah pejabat Jerman memperingatkan potensi kerusuhan. Menteri Dalam Negeri Baden-Württemberg Manuel Hagel menyatakan ada indikasi konkret demonstrasi bisa meluas ke wilayahnya, sementara pejabat Bavaria Joachim Herrmann berjanji mengerahkan polisi untuk mencegah kerusuhan tanpa mencabut hak berkumpul secara damai.

Austria: 50 Ribu Orang Protes Anggaran Universitas

Di Austria, sekitar 50.000 orang berunjuk rasa di Wina menolak anggaran pendidikan yang dinilai tidak memadai. Aksi yang diinisiasi Serikat Mahasiswa Nasional Austria (ÖH) itu mengusung slogan "Siaga Merah - Selamatkan Universitas!". Pemerintah federal mengalokasikan 16 miliar euro untuk universitas pada 2028-2030, sedangkan Konferensi Universitas memperkirakan kebutuhan minimal 18 miliar euro hanya untuk mengimbangi inflasi.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Ketua ÖH Viktoria Kudrna memperingatkan pemotongan anggaran dapat mengurangi pilihan program akademik, melemahkan layanan pendukung mahasiswa, dan memperburuk kondisi kerja. Dampaknya mulai terasa, antara lain pengurangan jam operasional perpustakaan di Universitas Teknologi Wina. Pihak universitas memberi izin kepada mahasiswa dan staf untuk ikut berdemonstrasi.

Albania hingga Belgia: Demo Berujung Bentrokan

Di Albania, demonstrasi yang dipimpin mahasiswa berlangsung enam hari berturut-turut menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama. Massa membakar gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca pertokoan, serta melempari polisi dengan batu paving. Pada 18 Oktober 2026, aparat membalas dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet. Rama menolak mundur dan menyebut aksi itu bukan ancaman bagi pemerintahannya, melainkan bagi ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa. Kepolisian menyebut 388 orang dikenai dakwaan pidana.

Kerusuhan serupa terjadi di Italia. Demonstrasi menolak mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik meluas ke Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin. Di Milan, polisi bentrok dengan demonstran yang melempar batu, memecahkan kaca toko, dan membakar tempat sampah di sekitar Piazza Duomo. Aparat menggunakan gas air mata dan meriam air. Perdana Menteri Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut.

Di Belgia, demonstrasi menentang biaya hidup berubah ricuh di Brussel dan Liege pada 17 Oktober 2026. Polisi menembakkan gas air mata setelah sejumlah anak muda melemparkan botol dan benda lain di kawasan Bourse, Brussel. Sementara di Portugal, warga turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi dan sosial, terutama soal biaya hidup dan perumahan. Di Prancis, isu biaya hidup dan pendidikan memicu gelombang protes, sedangkan di Serbia demonstrasi antipemerintah dipicu dugaan korupsi.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]