Jakarta — Tongkat estafet kepemimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) resmi berpindah. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10). Ia menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang memimpin Polri sejak 27 Januari 2021.
Pelantikan ini menjadikan Suyudi sebagai Kapolri ke-26 sejak jabatan pimpinan tertinggi kepolisian diisi pada awal kemerdekaan. Pergantian tersebut menambah panjang daftar jenderal yang pernah memimpin Korps Bhayangkara, dari Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo hingga Suyudi Ario Seto.
Bagi masyarakat daerah, pergantian Kapolri bukan sekadar peristiwa protokol di ibu kota. Kebijakan pimpinan Polri langsung berdampak pada pola pengamanan wilayah, penanganan kasus kriminal, hingga kualitas pelayanan di tingkat polres dan polsek. Arah baru kepemimpinan kerap menentukan prioritas program yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Rekam Jejak Suyudi di Dunia Reserse
Sebelum menduduki posisi Kapolri, Suyudi menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Ia merupakan lulusan Akpol 1994 dan memiliki pengalaman panjang di bidang reserse. Kariernya antara lain sebagai Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Wakapolda Metro Jaya, hingga Kapolda Banten.
Pengalaman itu dinilai relevan dengan tantangan Polri saat ini, terutama pemberantasan narkoba dan kejahatan jalanan yang masih menjadi keluhan masyarakat di banyak daerah. Latar belakang reserse juga diharapkan memperkuat respons cepat terhadap laporan warga.
Perjalanan Kepemimpinan Polri dari Masa ke Masa
Sejak Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menjabat pada 29 September 1945, kepolisian Indonesia telah melewati berbagai fase perubahan politik dan sosial. Nama-nama seperti Hoegeng Imam Santoso, Roesmanhadi, Da'i Bachtiar, hingga Tito Karnavian mewarnai dinamika institusi ini. Setiap pemimpin menghadapi tantangan zamannya masing-masing.
Listyo Sigit Prabowo mengakhiri masa jabatannya pada 1 Oktober 2026 setelah lebih dari lima tahun memimpin. Estafet kini berada di tangan Suyudi Ario Seto, yang langsung menghadapi ekspektasi publik terhadap penegakan hukum yang adil dan transparan.
Bagi warga di daerah, harapan utama biasanya sederhana: kehadiran polisi yang responsif, penanganan laporan yang tidak berlarut, serta rasa aman di lingkungan sekitar. Publik akan menantikan langkah konkret Kapolri baru dalam menjawab kebutuhan tersebut.