Proyek Kilang LNG Abadi di Blok Masela, Maluku, mencatat kemajuan signifikan setelah peletakan batu pertama oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026. Tahap Front-End Engineering Design (FEED) proyek senilai US$20,9 miliar itu resmi rampung pada Selasa (27/10/2026), tiga bulan lebih cepat dari target akhir tahun.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan percepatan ini dicapai melalui rapat koordinasi intensif hampir setiap minggu dengan operator INPEX. "Alhamdulillah, akhirnya bisa lebih cepat tiga bulan sebelum target," ujarnya dalam acara FEED Completion Ceremony di Jakarta.

Pekerjaan FEED mencakup empat komponen utama, yaitu Subsea Umbilicals, Risers, and Flowlines (SURF) dan Gas Export Pipeline, FEED FPSO oleh dua konsorsium kontraktor, serta FEED Onshore LNG Plant. Kualitas rancangan diperkuat melalui Independent Design Review yang melibatkan lebih dari 200 profesor dan doktor dari Universitas Pattimura, ITS, dan ITB.

Alokasi Gas untuk Domestik dan Ekspor

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah menyetujui alokasi gas Kilang Masela untuk pasar domestik dan ekspor. Untuk dalam negeri, gas ditujukan ke PT PLN, PT PGN Tbk, dan PT Pupuk Indonesia. Sementara untuk ekspor, alokasi diberikan ke BP Singapura dan Shell Singapura.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Djoko menargetkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) ditandatangani pada Rabu (28/10/2026) dalam ajang FOREK Hulu Migas 2026. Penandatanganan itu menjadi syarat utama bagi konsorsium INPEX, Pertamina, dan Searah untuk menuntaskan keputusan akhir investasi atau Final Investment Decision (FID) pada akhir tahun ini atau paling lambat Januari 2027.

President Director INPEX Masela Ltd. Kenji Hasegawa menegaskan pihaknya kini berfokus pada tahap Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI). "Penyelesaian tahap ini bukanlah tujuan akhir kami," katanya.

Harapan Warga Maluku

Bagi masyarakat Maluku, khususnya warga di sekitar lokasi proyek, percepatan tahap FEED menjadi sinyal bahwa manfaat ekonomi yang lama dinanti semakin dekat. Proyek ini digadang-gadang menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan usaha lokal, serta memperbaiki infrastruktur di kawasan timur Indonesia.

Blok Masela memiliki potensi gas 6,97 triliun kaki kubik yang akan diolah menjadi LNG berkapasitas 9,5 juta ton per tahun, plus 150 MMSCFD gas pipa dan 35.000 barel kondensat per hari. Kontrak bagi hasil blok ini telah ditandatangani sejak 1998 dan diperpanjang hingga 2055, sehingga realisasi proyek menjadi taruhan kredibilitas pengelolaan energi nasional.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]