Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali dari kunjungan mendadak satu hari ke kota perbatasan China, Dandong. Kunjungan ini menjadi sinyal penguatan hubungan ekonomi antara Pyongyang dan Beijing, yang berdampak pada stabilitas kawasan.

Dalam kunjungan pada Sabtu (24/10/2026), Kim menyeberangi jembatan baru yang menghubungkan kedua negara. Media pemerintah Korea Utara menekankan bobot historis kunjungan tersebut, sehari sebelum peringatan bergabungnya China dalam Perang Korea di pihak Pyongyang.

Kim mengunjungi Balai Peringatan Perang Melawan Agresi AS dan Membantu Korea di Dandong. Ia didampingi pejabat peringkat keempat Partai Komunis China, Wang Huning, serta delegasi tingkat tinggi Korea Utara, termasuk adik perempuannya, Kim Yo Jong, dan Menteri Luar Negeri Choe Son Hui.

Dalam kunjungan itu, Kim melihat foto arsip kakeknya, Kim Il Sung, bersama Mao Zedong. Ia juga memberikan plakat peringatan bergambar Kim Il Sung kepada museum, kemudian mengadakan pertemuan resmi dengan Wang dan memeriksa sebuah pabrik bus di Dandong.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa Kim menyatakan rakyatnya akan "selamanya mengingat tahun-tahun gemilang perjuangan bersama rakyat Tiongkok" dan mewariskan rasa terima kasih kepada rakyat Tiongkok yang telah membantu revolusi mereka dengan darah.

Kunjungan ini melambangkan upaya Beijing dan Pyongyang memperluas hubungan perdagangan. Kedua negara berupaya memperkuat hubungan ekonomi menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke kawasan itu bulan depan.

Langkah ini juga menyoroti tindakan penyeimbangan diplomatik Pyongyang, yang dalam dua tahun terakhir memperdalam hubungan militer dengan Rusia. Bagi masyarakat lokal di perbatasan, kunjungan ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru melalui perdagangan lintas batas.

Kim terakhir kali mengunjungi Beijing pada September 2025 untuk parade militer, dan Presiden China Xi Jinping mengunjungi Korea Utara pada Juni. Hubungan bilateral tersebut disebut sebagai ikatan "tak terputus" yang terjalin selama konflik 1950-1953.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]