Gelombang demonstrasi besar melanda sedikitnya 10 negara Eropa dalam beberapa hari terakhir. Aksi protes dipicu beragam persoalan, mulai dari anggaran pendidikan yang dinilai minim, mahalnya biaya hidup, krisis perumahan, hingga dugaan korupsi pemerintah. Situasi di sejumlah kota dilaporkan memanas dan berujung bentrokan antara demonstran dan aparat kepolisian.
Di Jerman, organisasi mahasiswa bersama partai oposisi Die Linke bersiap menggelar demonstrasi nasional pada 31 Oktober di berbagai kota. Mereka menuntut peningkatan pendanaan pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, penambahan jumlah guru, serta ukuran kelas yang lebih kecil. Isu perlindungan iklim, kenaikan biaya hidup, dan penolakan wajib militer turut diangkat dalam aksi tersebut.
Juru bicara Konferensi Mahasiswa Federal, Isabelle Seltenreich, menyatakan para pelajar dan mahasiswa memiliki alasan kuat untuk menyuarakan perbaikan sistem pendidikan. Ia menyebut tuntutan mereka serupa dengan aksi di Prancis dan Italia, termasuk kebutuhan infrastruktur sekolah yang lebih baik serta kesempatan pendidikan yang setara. Sejumlah pejabat Jerman memperingatkan potensi meluasnya aksi kekerasan dan menyiagakan kepolisian untuk mencegah kerusuhan.
Di Austria, sekitar 50.000 orang berunjuk rasa di Wina memprotes anggaran pendidikan yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan universitas. Aksi yang diinisiasi Serikat Mahasiswa Nasional Austria atau ÖH itu mengusung slogan "Siaga Merah - Selamatkan Universitas!". ÖH menyatakan pemerintah federal mengalokasikan 16 miliar euro untuk universitas pada periode 2028-2030, sedangkan Konferensi Universitas memperkirakan setidaknya 18 miliar euro dibutuhkan hanya untuk mengimbangi inflasi.
Ketua ÖH Viktoria Kudrna memperingatkan pemotongan anggaran dapat mengurangi pilihan program akademik, melemahkan layanan pendukung mahasiswa, dan memperburuk kondisi kerja. Dampaknya mulai dirasakan, antara lain pengurangan jam operasional perpustakaan di Universitas Teknologi Wina. Pihak universitas mendukung aksi dengan memberikan izin kepada mahasiswa dan staf untuk berpartisipasi.
Sementara di Albania, Perdana Menteri Edi Rama menghadapi tekanan besar setelah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa berlangsung enam hari berturut-turut. Demonstran menuntut pengunduran dirinya, dipicu kemarahan atas dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan. Aksi di ibu kota Tirana dan sejumlah kota lain berubah menjadi bentrokan. Massa membakar gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca pertokoan, serta melemparkan batu paving ke arah polisi.
Aparat membalas dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet. Rama menolak desakan mundur dan menegaskan demonstrasi tersebut bukan ancaman bagi pemerintahannya, melainkan bagi ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa. Kepolisian menyebut 388 orang telah dikenai dakwaan pidana terkait demonstrasi tersebut.
Kerusuhan juga terjadi di Italia ketika demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik meluas ke sejumlah kota. Di Milan, polisi bentrok dengan demonstran yang melempar batu, memecahkan kaca toko, dan membakar tempat sampah di sekitar Piazza Duomo. Aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.