Hujan dengan intensitas ekstrem melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan tertinggi mencapai 349 milimeter pada periode pengamatan hingga Sabtu (31/10) pagi. Kondisi ini diduga menjadi pemicu banjir dan tanah longsor di kedua wilayah tersebut.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyebut hujan berintensitas tinggi hingga ekstrem terpantau di sejumlah pos pengamatan hujan. "Berdasarkan data curah hujan pada Sabtu pagi, di Bandara Tunggul Wulung Cilacap tercatat 241 milimeter, Rawalo Banyumas 117 milimeter, Dam Piasa Kulon Somagede Banyumas 141 milimeter, dan DPU Banyumas 138 milimeter," kata Teguh, Senin (2/11).

Selain lokasi tersebut, curah hujan di Pos Pengamatan Dayeuhluhur, Cilacap, tercatat 79 milimeter. Sementara itu, pengamatan di Jeruklegi/Jambusari, Cilacap, mencatat angka tertinggi sebesar 349 milimeter. Curah hujan di sejumlah titik lainnya juga tergolong tinggi, seperti Pos Pengamatan Rembang, Purbalingga, yang mencatat 158 milimeter, Maos, Cilacap, sebesar 196 milimeter, serta Jeruklegi, Cilacap, mencapai 107 milimeter.

BMKG mengelompokkan hujan ringan pada kisaran 5–20 milimeter, hujan sedang 20–50 milimeter, hujan lebat 50–100 milimeter, dan hujan sangat lebat 100–150 milimeter. Adapun curah hujan di atas 150 milimeter masuk kategori hujan ekstrem. Dengan demikian, sejumlah titik pengamatan di Cilacap, Banyumas, dan Purbalingga mencatat curah hujan dalam kategori ekstrem.

Bagi masyarakat lokal, kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, terutama di daerah yang memiliki kerawanan banjir dan tanah longsor. Warga diimbau untuk tetap waspada dan memantau informasi cuaca terkini dari BMKG. Pemerintah daerah setempat juga diharapkan siaga terhadap potensi bencana susulan, mengingat curah hujan ekstrem masih berpotensi terjadi.