Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi persaingan ketat dalam pemilihan parlemen yang digelar Selasa, 27 Oktober 2026. Sejumlah rival berupaya mengakhiri dominasi politiknya, tetapi jalan bagi kubu oposisi untuk merebut kekuasaan masih belum jelas.

Pemilu ini menjadi yang pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang di Jalur Gaza dan Lebanon serta memperluas konflik di Timur Tengah hingga melibatkan Iran. Dalam sistem pemilu Israel, pemilih memberikan suara kepada partai politik, dan kursi parlemen dibagikan berdasarkan perwakilan proporsional sehingga pembentukan pemerintahan bergantung pada kemampuan partai membangun koalisi.

Empat Penantang Utama

Gadi Eisenkot, mantan kepala militer berusia 66 tahun, menjadi salah satu penantang utama. Ia membangun citra sebagai tokoh berlatar militer yang berada di luar lingkaran politik tradisional. Eisenkot memimpin Partai Yashar yang berhaluan tengah dan menawarkan alternatif kepemimpinan dengan menonjolkan persoalan keamanan serta perbaikan kepercayaan publik.

Naftali Bennett, mantan perdana menteri berusia 54 tahun, merupakan tokoh sayap kanan dengan latar belakang komando militer. Ia pernah menjadi sekutu Netanyahu sebelum berpisah secara politik. Bennett kini bersekutu dengan mantan perdana menteri Yair Lapid melalui Partai Together, mengusung agenda pemulihan nasional dan berupaya mengakhiri dominasi Netanyahu.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Avigdor Lieberman, mantan menteri pertahanan berusia 68 tahun, pernah menjadi sekutu dekat Netanyahu. Namun, ia meninggalkan pemerintahan pada 2018 karena menilai Netanyahu terlalu lunak terhadap kelompok militan Palestina di Gaza. Lieberman kemudian mengambil sikap lebih keras dan menjadi salah satu pengkritik utama Netanyahu.

Yair Golan, mantan jenderal berusia 64 tahun, memimpin Partai Democrats yang dibentuk dari sisa-sisa Partai Buruh Israel dan partai sayap kiri Meretz. Ia mendapat pujian atas tindakannya membantu menyelamatkan warga saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Pengaruh Partai Kecil

Kelangsungan politik Netanyahu selama ini ditopang dua partai Yahudi ultra-Ortodoks, United Torah Judaism dan Shas. Namun, tuntutan pengecualian wajib militer bagi komunitas mereka memicu ketidakpuasan di kalangan warga Israel, terutama saat negara berada dalam situasi perang.

Partai-partai lain seperti Raam dan Joint List yang mewakili warga Arab Israel, serta partai kecil People of Israel dan The Reservists, berpotensi menentukan siapa yang dapat membentuk pemerintahan. Sistem politik Israel yang terfragmentasi membuat perolehan kursi partai kecil menjadi faktor penentu.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Netanyahu sendiri telah mendominasi politik Israel sejak 2009. Pendukungnya memandangnya sebagai pemimpin kuat yang mampu menjaga keamanan Israel, namun ia juga menjadi sosok yang memecah opini publik. Karier politiknya dibayangi kritik atas kegagalan mencegah serangan Hamas serta proses hukum dugaan korupsi yang dibantahnya.