Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengeluarkan strategi militer baru yang mewajibkan seluruh pangkalan utama di wilayah benua AS mampu mempertahankan operasi esensial setidaknya selama 90 hari penuh tanpa dukungan dari pihak eksternal. Kebijakan ini tertuang dalam dokumen bernama FORTRESS yang ditinjau langsung oleh jaringan Fox News pada Minggu (25/10/2026).
Dokumen tersebut juga mensyaratkan pasokan kritis militer memiliki setidaknya dua rute pasokan atau produksi yang memenuhi kualifikasi guna mencegah gangguan di tengah krisis. Menteri Perang AS, Pete Hegseth, telah mengumumkan inisiatif besar ini sejak bulan lalu. Langkah strategis ini diambil usai militer AS menghadapi gangguan logistik serius di Timur Tengah menyusul serangan Iran terhadap fasilitas Amerika dan situs lain yang digunakan oleh pasukan AS.
Serangan tersebut merupakan balasan langsung atas serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran. Jaringan berita Fox News menilai bahwa AS memang harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan situasi kontingensi. "Tindakan militer dapat melumpuhkan jaringan listrik, mengganggu rantai pasokan, dan mengancam infrastruktur penting di tanah Amerika," tegas Hegseth seperti dikutip dalam dokumen tersebut.
FORTRESS sendiri merupakan singkatan dari Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply and Survivability. Sebuah memorandum pendirian resmi telah ditandatangani untuk memperkuat regulasi ini. "Terdapat lima pilar utama, yakni kemandirian energi, ketahanan rantai pasokan, cadangan strategis, perlindungan fisik dan keamanan siber, serta ketahanan di ruang angkasa dan spektrum elektromagnetik," tutur Hegseth.
Perencana Pentagon saat ini bertujuan untuk secara masif mengurangi ketergantungan pada infrastruktur sipil yang dapat rusak parah jika terjadi konflik bersenjata besar. Opsi yang diusulkan mencakup pembangunan reaktor nuklir skala kecil dan bank baterai berkapasitas raksasa untuk mendukung jaringan mikro pangkalan jika pasokan listrik eksternal benar-benar terputus. "Program ini juga membayangkan persiapan pabrik sipil untuk beralih ke produksi pertahanan dalam keadaan darurat, bersama dengan langkah-langkah lainnya," ujar Hegseth.
Laporan perombakan strategis ini muncul kurang dari dua minggu sebelum pemilihan paruh waktu AS bergulir, di mana berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa Partai Republik yang berkuasa bisa saja menderita kerugian signifikan. Pecahnya perang Iran dan lonjakan harga bahan bakar yang diakibatkannya kini menjadi faktor utama yang menguatkan posisi kandidat dari kubu oposisi.
Di sisi lain, retorika Presiden Donald Trump terus memicu ekspektasi luas bahwa AS dapat sewaktu-waktu meningkatkan eskalasi perangnya dengan Iran tak lama setelah pemilu usai, atau bahkan sebelum pemungutan suara berlangsung. Ancaman ini dilaporkan semakin nyata di lapangan dengan adanya pergerakan militer. "Washington telah menarik beberapa personel dari pangkalannya di Timur Tengah menjelang kemungkinan kampanye serangan udara baru," ungkap laporan tersebut.
Bagi masyarakat lokal di kawasan pangkalan militer, kebijakan ini membawa dampak langsung terhadap kesiapan infrastruktur sipil di sekitar basis. Ketergantungan pada pasokan energi eksternal yang selama ini menjadi tulang punggung operasional pangkalan akan mulai dialihkan ke sistem mandiri, seiring dengan persiapan pabrik sipil untuk beralih ke produksi pertahanan dalam keadaan darurat.