Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan gelombang protes baru yang diperkirakan terjadi pada Sabtu, 31 Oktober. Ia menyebut hari itu sebagai periode berisiko menyusul kerusuhan besar yang melanda sejumlah kota, termasuk Marseille, pada 17 Oktober.

Peringatan itu disampaikan Macron saat mengunjungi Balai Kota Marseille, lokasi yang sempat diduduki pengunjuk rasa. Patung dada Marianne, simbol nasional Prancis, sempat dijatuhkan ke tanah dalam aksi tersebut. Kepada aparat penegak hukum, ia menilai kondisi Prancis yang bergolak saat ini tidak wajar dan menyoroti peran media sosial dalam memobilisasi dorongan buruk yang merugikan demokrasi.

"Sabtu depan diperkirakan akan kembali menjadi hari yang berisiko," ujar Macron, Senin waktu setempat. Ia menegaskan pemerintah akan terus mempertahankan pendiriannya, tetapi mengakui tidak ada hasil yang pasti. Menurutnya, gerakan ini bisa mereda jika aparat menanggapi harapan sah warga dan menjaga ketertiban.

Bagi masyarakat lokal, terutama di Marseille dan sejumlah kota lain, ancaman kerusuhan berdampak langsung pada rutinitas harian. Otoritas setempat memperpanjang kebijakan jam malam di lebih dari dua belas lokasi. Aktivitas warga, usaha kecil, dan akses ke ruang publik dibatasi demi mencegah bentrokan susulan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menjanjikan operasi pengamanan yang sangat ketat pada aksi protes Sabtu mendatang.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Pihak berwenang mengakui adanya kegagalan aspek keamanan dan intelijen yang memicu bentrokan, penjarakan massal, serta perusakan fasilitas umum pada 17 Oktober. Sebanyak 1.435 orang ditangkap di sela-sela aksi protes akhir pekan itu. Sebanyak 267 petugas kepolisian dan gendarmeri luka-luka, begitu pula 150 pengunjuk rasa, termasuk tiga orang cedera serius.

Kerusuhan bermula dari demonstrasi pelajar yang menuntut kondisi pembelajaran lebih baik selama berminggu-minggu. Respons kepolisian yang dinilai terlalu keras kemudian memicu gerakan lebih luas. Warga lokal pun menyoroti dua hal sekaligus: biaya hidup yang makin berat dan kekerasan aparat. Pemerintah berjanji tetap waspada dan mengklaim situasi keamanan kini mulai terkendali, meski ancaman aksi baru akhir pekan ini belum sepenuhnya sirna.