Presiden Kamerun Paul Biya kembali menjadi sorotan tajam publik. Pemimpin yang telah menjabat sejak 1982 itu dituduh hanya bertindak sebagai tamu yang sekadar mengunjungi negaranya sendiri karena terlalu sering menghabiskan waktu di Swiss.

Kepulangannya ke Kamerun pada minggu ini justru memicu gelombang kritik daring yang masif. Kedatangannya bertepatan dengan perjuangan negara melawan pengangguran massal dan konflik pemisahan diri yang telah berlangsung hampir satu dekade.

Banyak warga merasa seolah-olah negara mereka sedang menerima kunjungan kenegaraan resmi dari presidennya sendiri. Seorang pengguna TikTok melontarkan sindiran keras terkait fenomena tidak wajar tersebut.

"Rakyat Kamerun, saya ingin tahu bagaimana perasaan Anda karena bagaimana Anda memberi tahu saya bahwa seorang kepala negara akan mengunjungi Anda," ujarnya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Sebuah berita utama bernada lelucon satir bahkan ikut viral di dunia maya. "Presiden Kamerun, Paul Biya yang berusia 93 tahun, diperkirakan akan mengunjungi Kamerun minggu depan."

Berdasarkan catatan, Biya meninggalkan negaranya selama sekitar dua bulan pada 2024. Ia juga absen dalam periode hampir sama pada tahun ini, yakni dari 7 Juni hingga 20 Agustus.

Proyek Pelaporan Kejahatan Terorganisir dan Korupsi (OCCRP) memperkirakan pada 2018 saja, ia telah menghabiskan 4,5 tahun di luar negeri murni untuk kunjungan pribadi sejak menjadi presiden. Angka itu terus merangkak naik hingga saat ini.

Selama kampanye pemilihan presiden pada 2025 lalu, ia juga sebagian besar absen dari berbagai rapat umum. Merespons kejanggalan ini, pihak pemerintah Kamerun langsung turun tangan membela rentetan perjalanan luar negerinya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Pemerintah menepis keras berbagai laporan terkait kondisi kesehatan sang presiden yang disebut-sebut mulai menurun. Mereka mengeklaim Biya tetap mampu mengelola dan menjalankan roda pemerintahan negara secara jarak jauh, bahkan di tengah kondisi kekosongan kursi wakil presiden saat ini.

Di sisi lain, pemerintah Kamerun dilaporkan tidak segera menanggapi permintaan komentar lebih lanjut terkait rincian perjalanan pemimpinnya tersebut.